Showing posts with label DUNIA ISLAM. Show all posts
Showing posts with label DUNIA ISLAM. Show all posts
Saturday, 8 May 2021

MANFAAT BERSILATURRAHMI


Berbagai Manfaat Silaturahmi yang Perlu Anda Ketahui

Bersama : Aby hadim Al-Mujtaba

Inilah 5 Manfaat Menjalin Silaturahmi yang Perlu Anda Ketahui



PONDOK HIKMAH BANTEN.COM-“Kalau kalian tidak mengerjakan apa yang Aku perintahkan itu (yaitu untuk berukhuwah, bersilaturahmi) tentu akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar,” (QS Al Anfaal ayat 63).

Oleh karena itu, menjalin silaturahmi merupakan suatu keharusan bagi umat Islam. Karena, dengan bersilaturahmi Anda dapat menghubungkan tali kekerabatan dan menyambungkan kasih sayang demi kebaikan


Gambar : pondokhikmahbanten.com

'idul fitri adalah hari kemenangan Umat islam setelah melaksanakan ibadah Fardhu Puasa bulan Ramadhan dan ibadah-ibadah sunah yang lainnya, seperti Shalat Sunah Taraewih, Tadarus Al-Qur'an,Qiyamullail dan yang lainnya,

Setelah itu, tibalah hari kemenangan mendapat pila ampunan, Rahmat dari Allah.SWT. 

Tibalah hari kebahagiaan yang dilanjutkan denga bersilaturrahkmi saling Maaf memaafkan sesama saudara handai Taulan, 

bagi orang yang selalu menjaga tali silaturahmi, Allah akan memanjangkan umurnya. Bahkan, dengan bersilaturahmi Allah akan mempermudah rezeki seseorang.

Manfaat Silaturahmi

Berikut  ada tiga manfaat yang didapat dari menjalin silaturahmi:

1- Mempererat Tali Persaudaraan dan Persahabatan

Kesibukan kadang memang membuat Anda merasa tidak sempat atau tidak memiliki waktu untuk menyapa saudara, keluarga atau teman lama.

Namun, sebenarnya silaturahmi tidak menuntut Anda harus meluangkan banyak waktu. Cukup sekedar sms atau telpon untuk menanyakan kabar saja, hal ini sudah dapat mempererat jalinan tali persaudaraan dan persahabatan dengan sesama.

2- Memanjangkan Usia

Dengan menjalin tali silaturahmi, maka Anda akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman batin. Jika pikiran dan hati Anda tenang dan bahagia, maka efeknya juga sangat baik bagi kesehatan.

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi,” (HR. Bukhari – Muslim).

Menjaga dan memperkuat silaturahmi sangat penting dilakukan oleh setiap muslim. Hal ini bukan hanya bermanfaat di dunia saja, akan tetapi untuk kebaikan di akhirat nanti.

Silaturahmi juga dapat mendatangkan banyak doa keselamatan dan umur panjang bagi Anda dari orang-orang yang telah Anda bahagiakan hatinya.

3- Menambah Berkah, dan Rezeki

Menjalin silaturahmi juga dapat melimpahkan berkah dan rezeki. Karena, dengan komunikasi yang baik maka rezeki yang Anda dapat akan semakin baik dan juga semakin lancar.

Selain itu Seseorang muslim yang menjalin kembali tali silaturahmi maka akan dijauhkan dari neraka. Sebagaimana dalam salah satu hadis berikut ini, yang artinya:

“Engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim).

4- Manfaat Silaturahmi juga untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

Menjalin silaturahmi dengan sesama juga menjadi salah satu sarana kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pasalnya saat kita mau menyambung silaturahmi dan memperlakukan manusia dengan baik, berarti kita telah menjalankan perintah Allah SWT. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra ia berkata sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah SWT menciptakan makhluk, hingga apabila Dia selesai dari (menciptakan) mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah kedudukan orang yang berlindung dengan-Mu dari memutuskan. Dia berfirman: “Benar, apakah engkau ridha jika Aku menyambung orang yang menyambung engkau dan memutuskan orang yang memutuskan engkau?” Ia menjawab: iya. Dia berfirman: “Itulah untukmu.”

5- bManfaat Silaturahmi Sebagai Akhlak terpuji yang dicintai oleh Allah

Manfaat silaturahmi lainnya yaitu dapat menjadikan kita sebagai makhluk yang mulia. Pasalnya menyambung silaturahmi dengan orang yang telah memutuskan tali silaturahmi merupakan akhlak terpuji yang dicintai oleh Allah. Sebagaimana sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ali bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Maukah kalian saya tunjukkan perilaku akhlak termulia di dunia dan di akhirat? Maafkan orang yang pernah menganiayaimu, sambung silaturahmi orang yang memutuskanmu dan berikan sesuatu kepada orang yang telah melarang pemberian untukmu.”

Sedangkan seseorang yang suka memutus tali silaturahmi maka dianggap sebagai perusak kehidupan. Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam salah satu surah Al-Quran berikut ini, Allah SWT berfirman:

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan tali silaturahmi (kekeluargaan)? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka”.(QS. Muhammad:22-23)

Demikian Pembahasan Silaturrahmi semoga bermanfaat buat Alfaqiar dan buat Ikhwan/ikhwat Semua 

Aby Hadim Al-Mujtaba





Tuesday, 4 May 2021

HUKUM PUASA BAGI WANITA YANG LAGI HADATS NIFAS



 PONDOK HIKMAN AL-BAROKAH BANTEN-                                          Tanya: Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh. Aby hadim,Saya mau bertanya, dulu saat istri melahirkan dalam keadaan punya hadats Nifas  sebulan tidak puasa,

dan baru sekarang ini ingat dan ingin membayarnya, apakah bisa kita mengqodho dengan memberi makan faqir miskin (fidyah). Terima kasih. (Hendra)


Jawab: Wa'alaikumsalamwarahmatullahi wabarakatuhu. Alhamdulillah washshalatuwassalamu 'alaa rasulillah.
Pertama: Hukum Puasa Wanita Yang Nifas
Wanita yang melahirkan disebut juga dengan wanita nifas. Karena nifas secara bahasa maknanya adalah melahirkan. (Lisaanul 'Arob 6/238, Ibnul Manzhur, An-Nihayah 5/95,

 Ibnul Atsir).
Sedangkan secara terminology syari’at nifas adalah darah yang keluar dari rahim karena sebab melahirkan. (Risalah Fid Dimaa at-Thobi’iyyah hal.51, Ibnu Utsaimin).

Wanita yang sedang haidh dan nifas tidak boleh puasa, baik puasa wajib maupun puasa sunnah, dan para ulama telah sepakat dalam masalah ini. (Lihat Marotib al-Ijma’ hal.40, Ibnu Hazm, al-Ijma’ hal.43, Ibnul Mundzir, al-Mughni 4/397, Ibnu Qudamah)
Rasululloh shallallahu 'alaihiwasallam bersabda:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ؟ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا

Bukankah wanita jika sedang haidh dia tidak shalat dan tidak puasa?                                    Itulah bentuk kurang agamanya. (HR.Bukhari: 304, Muslim: 132)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: “Hukum wanita nifas sama halnya dengan hukum wanita haidh dalam seluruh perkara yang diharamkan dan kewajiban yang gugur bagi mereka, kami tidak mengetahui ada perselisihan dalam masalah ini”. (Al-Mughni 1/350)

Kedua: Cara Wanita Yang Nifas Mengganti Puasa
Aisyah radhiyallahu 'anhaa berkata: “Kami mengalami haidh pada zaman Rasululloh, maka kami diperintah untuk mengqodho puasa dan tidak diperintah untuk mengqodho shalat”. (HR.Bukhari: 321, Muslim: 335)

Dan cara wanita nifas mengganti puasa sama dengan cara wanita haidh, dengan demikian, wanita yang nifas wajib mengganti puasa (qodho), dan tidak boleh membayar hutang puasanya dengan memberi makan fakir miskin (fidyah).

Akan tetapi, umumnya wanita yang melahirkan mereka juga langsung menyusui anaknya. Dan wanita yang menyusui boleh tidak puasa serta wajib mengganti puasanya dengan qodho atau membayar fidyah.

Sehingga dalam diri wanita yang melahirkan terkumpul dua keadaan;
Keadaan Pertama; keadaan nifas, ini disebut dengan keadaan yang menghalangi dan melarang (Janib al-Haazhir wal Mani’).

Keadaan Kedua; keadaan menyusui, ini disebut dengan keadaan yang membolehkan untuk berbuka puasa (janib al-mubiih).

Dan para ulama telah menjelaskan jika berkumpul antara keadaan yang melarang dan keadaan yang membolehkan maka keadaan yang melarang itulah yang dimenangkan. Kaidahnya dalam bahasa arab berbunyi; Idzajtama’a Jaanib al-Haazhir wal Mubiih Ghulliba Jaanib al-Haazhir.

Maka wanita yang melahirkan wajib mengqodho puasanya, dan tidak boleh membayar dengan fidyah. Allohu A’lam.


Ketiga: Waktu Pelunasan Hutang Puasa
Dalam pertanyaan di atas ada yang masih kurang jelas, yaitu ucapan saudara dulu saat istri melahirkan sebulan tidak puasa, waktu dulu disini apakah satu tahun yang lalu, yaitu setahun sebelum bulan Ramadhan tahun ini ataukah beberapa tahun yang lalu sebelum Ramadhan tahun ini? Karena jika maksudnya waktu dulu yaitu setahun yang lalu maka anda benar, boleh melunasi hutang puasa tahun lalu saat ini, karena wanita haidh dan nifas mengganti puasa Ramadhan pada hari mana saja yang dia mampu. Boleh mengakhirkannya selama belum datang bulan Ramadhan berikutnya. Aisyah berkata: “Aku punya utang puasa Ramadhan dan aku tidak mampu membayarnya kecuali pada bulan Sya’ban”. (HR.Muslim: 1146)

Imam Ibnu Qudamah mengatakan: “Andaikan mengakhirkan membayar utang puasa Ramadhan boleh lewat Ramadhan berikutnya tentulah akan dikerjakan oleh Aisyah”. ( Al-Kaafii 1/359)

Akan tetapi jika maksud dari waktu dulu disini adalah beberapa tahun yang lalu, maka hukum orang yang mengakhirkan hutang puasa sampai lewat Ramadhan ada dua keadaan;
Pertama: jika dia melakukannya karena udzur yang terus menerus, sehingga tidak mampu melunasi hutang puasa sampai datang Ramadhan berikutnya, maka tidak ada dosa baginya, dan dia wajib mengganti hutang puasanya setelah Ramadhan berakhir atau kapan saja selama belum datang bulan Ramadhan lagi.
Alloh berfirman;

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا [البقرة/286]

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS.al-Baqoroh: 286).

Kedua: jika dia melakukannya karena lalai dan peremehan tanpa udzur, maka menurut sebagian ulama cukup baginya mengganti hutang puasanya dan tidak perlu diiringi dengan memberi makan fakir miskin (fidyah). Karena Alloh berfirman;

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ [البقرة/184]

Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS.al-Baqoroh: 184).

Dan wajib baginya bertaubat dan memohon ampun kepada Alloh atas kelalaian dan peremehannya tanpa udzur.

Namun sebagian sahabat seperti Ibnu Abbas dan Abu Hurairoh berfatwa bahwa orang yang lalai membayar hutang puasa sampai datang Ramadhan berikutnya maka dia mengqadha puasanya dan juga memberi makan fakir miskin. 

Riwayat ini telah shahih datang dari mereka sebagaimana dalam sunan ad-Daroquthni 2/197, dan inilah yang difatwakan oleh Syaikh Ibnu Baz dalam fatwanya. Allohu A’lam    

Aby hadim Al-Mujtagba

HUKUM AQIQOH


Bagaimana Mengaqiqohi anak yang sudah meninggal




PONDOK HIKMAH AL-BAROKAH BANTEN-                          Tanya: Assalamualaikum.Wr. Wb. Aby hadim, Saya mau nanya Bagaimana hukumnya mengaqiqahkan anak yang sudah wafat? 

Apakah kewajiban orang tua belum gugur? Mohon dijawab terima kasih. Wassalamualaikum. (Ardiansyah Permadi)

Jawab:
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Alhamdulillah washshalatu wassalamu 'alaa rasulillah.

Aqiqah termasuk sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang dianjurkan. Berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak, diantaranya dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Artinya: "Setiap bayi tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan kambing pada hari ke-7, dicukur rambutnya serta diberi nama" (HR.Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’iy, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Abdul Haq, lihat at-Talkhis 4/1498 oleh Ibnu Hajar)

Maksud tergadaikan di sini adalah tertahan dari suatu kebaikan yang seharusnya diperoleh jika ia diaqiqahi. Karena seorang bisa kehilangan memperoleh kebaikan karena perbuatannya sendiri atau karena perbuatan orang lain. (Lihat Tuhfatul Maudud,Ibnul Qayyim hal.122-123, tahqiq: Syeikh Salim al-Hilali)

Berdasarkan perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits diatas maka tidak selayaknya meninggalkan aqiqah jika mampu. Bahkan kebiasaan para salaf mereka senantiasa melaksanakan aqiqah untuk anak-anak mereka.

Yahya al-Anshori rahimahullahu mengatakan: “Aku menjumpai manusia dan mereka tidak meninggalkan aqiqah dari anak laki-laki maupun perempuan”. (Al-Fath ar-Robbani, Ibnul Mundzir 13/124, lihat Ahkam al-Maulud hal.51, Salim bin Ali Rosyid as-Sibli dan Muhammad Kholifah Muhammad Robah)

Berhubungan dengan mengaqiqahi orang yang sudah meninggal maka tidak lepas dari tiga keadaan;

Pertama: Orang tua mengaqiqahi anak yang telah meninggal. Jika anak tersebut meninggal ketika sudah terlahir ke dunia, tetap disyariatkan untuk diaqiqahi.
Dan jika meninggalnya masih dalam kandungan dan sudah berusia 4 bulan maka disyariatkan aqiqah, jika kurang dari 4 bulan maka tidak disyariatkan.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Apabila janin itu keguguran setelah ditiupkannya ruh maka janin tersebut dimandikan, dikafani, disholati dan dikubur di pekuburan kaum muslimin, serta diberi nama dan diaqiqahi. Karena dia sekarang telah menjadi seorang manusia, maka berlaku pula baginya hukum orang dewasa”. (Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah hal.90, Ibnu Utsaimin)

Kedua: Anak mengaqiqahi orang tua yang sudah meninggal. Hukumnya tidak disyariatkan, karena perintah aqiqah ditujukan kepada orang tua bukan kepada anak
.
Ketiga: Mengaqiqahi seorang manusia yang telah meninggal. Jika ada seseorang yang meninggal dan dia semasa hidupnya belum diaqiqahi, maka tidak disyariatkan bagi ahli warisnya untuk mengaqiqahinya. Allohu A’lam. (Faedah ini kami dapat dari Syaikhuna Saami bin Muhammad as-Shuqair, murid senior dan menantu Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin, Jazaahullohu Khoiron).



Aby hadim Al-Mujtaba

HUKUM NGDZANI DAN IQOMAHI DITELINGA BAYI

 



PONDOK HIKMAH AL BANTEN-Tanya: Assalamualaikum. Apakah adzan dan iqomah buat bayi baru lahir sama beserta adzan dan iqomah waktu akan melakukan sholat? (Didik)

Jawab: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Sebelum kami memenuhi pertanyaan diatas, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu hukum adzan dan iqomat bagi bayi yang baru lahir, sunnahkah adzan di telinga bayi yang baru lahir?

Masalah ini harus kita perhatikan beserta baik, sebab kebanyakan para penulis yang membahas masalah ini menegaskan sunnahnya mengadzani bayi, sampai para ulama sekelas Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman (6/389) dan Imam Ibnul Qoyyim dalam Tuhfatul Maudud hal.61.

Padahal perkaranya bukan demikian, ialah bukan disyariatkan mengadzani bayi yang baru lahir. Karena seluruh kejadian tentang masalah tersebut derajatnya lemah, sehingga bukan boleh dijadikan sandaran hukum dalam beramal. Kelemahan kejadian tersebut sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh al-Albani dalam ad-Dho’iifah no.321 
dan dijelaskan tentang kelemahannya beserta bagus oleh penulis Ahkam al-Maulud Fis Sunnah al-Muthohharoh hal.34-39. lihat pula Tahqiq Syaikh Salim al-Hilali terhadap kitab Tuhfatul Maudud hal.61-65 yang kesimpulannya beliau menilai lemah kejadian mengadzani di telinga bayi yang baru lahir.

Berhubungan beserta pertanyaan di atas, anggaplah bahwa kejadian mengadzani di telinga bayi adalah shohih (padahal lemah), apakah sama lafazh adzannya beserta lafazh adzan buat shalat? 

Jawabnya; lafazhnya adalah sama, lantaran rahasia disyariatkannya (Padahal bukan disyariatkan) mengadzani bayi biar kalimat pertama yang di dengar oleh bayi baru lahir adalah kalimat adzan yang berisi tetang keagungan Alloh, syahadat tauhid dan lain-lain. 

Juga hikmah yang lain biar beserta adzan ini membuat setan lari, lantaran setan akan selalu mengintai manusia buat mengganggu dan memberi ujian.(Lihat Tuhfatul Maudud hal.64)
Allohu A’lam


Aby hadim Al-Mujtaba
Monday, 3 May 2021

HUKUKM JIMA' DENGAN ISTRI SELAGI PUASA

 

`



PONDOK HIKMAH BANTEN-Tanya: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pada puasa tahun 2009 saya pernah satu kali berhubungan intim dengan istri di siang hari. Namun hingga masuk pada puasa 2010 saya belum mengganti puasa yang batal tersebut. Kini sudah masuk 2011 saya berniat membayarnya, bagaimanakah hukum dan caranya? Terimakasih, Wasalammu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.(SU)


Jawab:
Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh. Alhamdulillah washshsalaatu wassalaamu 'alaa rasuulillah.
Berhubungan intim dengan istri pada siang hari bulan Ramadhan termasuk dosa dan membatalkan puasa. Alloh ta'aalaa berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ [البقرة/187]

Artinya: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. (QS.al-Baqoroh: 187).
 “Tatkala kami sedang duduk-duduk di sekitar Rasulullah, datanglah seorang laki-laki. Lalu dia berkata: 

“Wahai Rasulullah celakalah saya”. 
Beliau bertanya: Ada apa denganmu? 

Dia menjawab: Saya telah bersetubuh dengan isteri saya, padahal saya sedang puasa. Rasulullah lantas bertanya; Apakah engkau mempunyai seorang budak yang dapat engkau bebaskan? 
Dia menajawab: Tidak!. Rasulullah kembali bertanya: Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut? 
Dia menjawab: Tidak! Rasulullah bertanya lagi: Apakah kamu mampu memberi makan kepada enam puluh orang miskin? 
Dia menjawab: Tidak. Lalu Rasulullah diam sejenak. Tiba-tiba Rosululloh dibawakan sekeranjang korma. Beliau bertanya: Mana yang tadi bertanya? 
Dia menjawab: Saya. Beliau berkata: Ambillah sekeranjang korma ini dan bersedekahlah dengannya!. Laki-laki tadi malah berkata; Apakah kepada orang yang lebih miskin dari saya wahai Rosulullah? 
Demi Alloh, tidak ada keluarga di daerah ini yang lebih miskin daripada saya!

 Rosulullah akhirnya tertawa hingga gigi gerahamnya terlihat. Lalu beliau bersabda: Berikanlah korma ini kepada keluargamu!(HR.Bukhari: 1936, Muslim: 1111)

Berdasarkan hadist di atas, orang yang bersetubuh di siang hari di bulan ramadhan, selain batal puasa dan berdosa, maka dia wajib membayar kaffarot dengan urutan sebagai berikut
Pertama; Membebaskan budak.
Kedua ; Bila tidak mendapatkan budak maka wajib berpuasa dua bulan berturut-turut.
Ketiga: Bila tidak mampu berpuasa dua bulan berturut-turut maka memberi makan enam puluh orang miskin.

Selain itu dia juga wajib mengqodho puasa, menurut pendapat mayoritas ulama, karena orang yang bersetubuh telah merusak satu hari Romadhan, maka wajib baginya untuk menggantinya pada hari yang lain, sebagaimana jika dia batal puasanya karena makan dan minum. (At-Tamhid 7/157, Ibnu Abdil Barr)

Sebagian ulama seperti Ibnu Hazm (Al-Muhalla 6/264) dan Imam Syafii (Lihat al-Mughni 4/372 ) berpendapat bahwa tidak ada qodho bagi yang bersetubuh pada siang hari bulan Romadhan. Karena nabi tidak memerintahkan laki-laki tadi untuk mengganti puasanya. Adapun riwayat yang mengatakan maka berpuasalah sebagai ganti hari yang batal adalah riwayat yang syadz (ganjil) tidak bisa dijadikan dalil.

Dan pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat pertama, karena tidak kita ragukan bahwa mengganti puasa adalah lebih berhati-hati dan lebih melepaskan tanggungan. Allohu A’lam. (Minhatul ‘Allam 5/68 )
Dengan demikian saudara penanya tetap berkewajiban untuk membayar kaffarot, dan mengganti puasa yang ditinggalkan. Nasehat kami, bersegeralah menunaikan tanggungan ini, disertai taubat yang nashuha kepada Allah.


Aby hadim Al-Mujtaba 


Sunday, 2 May 2021

APAKAH SAH PUASANYUA.

 

Apabila Sudah masuk waktu subuh masih punya hadats Junub.


Tanya: Assalamu'alaikumwarahmatullahi wabarakatuhu. Saya ingin menanyakan apakah sah puasa kita jika kita mandi wajib ketika matahari sudah tinggi (waktu imsak sudah lewat)? (Riswadi)

Jawab: Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuhu. Alhamdulillah, washshalaatu wassalaamu 'alaa rasuulillah wa 'alaa 'aalihii wa shahbihii ajma'iin.
Jumhur ulama berpendapat bahwa barangsiapa yang junub pada malam hari, kemudian baru mandi setelah terbit fajar (masuk waktu shalat shubuh) maka puasanya sah.                    
Allah ta'aalaa berfirman: [البقرة/187]

فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

Artinya: "…Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian (yaitu anak), dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar" (QS. AL-Baqarah: 187)
Berkata Ibnu Katsir rahimahullahu:

أباح تعالى الأكل والشرب، مع ما تقدم من إباحة الجماع في أيّ الليل شاء الصائمُ إلى أن يتبين ضياءُ الصباح من سواد الليل

"Allah ta'aalaa membolehkan makan, minum, dan membolehkan jima' pada malam hari, kapan saja orang yang puasa tersebut menghendaki, sampai jelas cahaya shubuh dari gelapnya malam" (Tafsir Ibnu Katsir 1/512).
Berkata Imam An-Nawawi rahimahullah:

ومعلوم أنه اذا جاز الجماع إلى طلوع الفجر لزم منه أن يصبح جنبا ويصح صومه لقوله تعالى: ثم أتموا الصيام إلى الليل

"Dan maklum bahwa apabila diperbolehkan jima' sampai fajar (shubuh) maka mengharuskan bolehnya seseorang masuk shubuh dalam keadaan junub, dan sah puasanya, karena itu Allah berfirman (yang artinya): "Kemudian sempurnakanlah puasa sampai datang malam (tenggelam matahari)" (Syarh Shahih Muslim 7/221)
Dan di dalam hadits Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu 'anhumaa;

إن كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ غَيْرِ احْتِلاَمٍ فِى رَمَضَانَ ثُمَّ يَصُومُ

Artinya: "Adalah Rasulullah pernah memasuki fajar pada bulan Ramadhan dalam keadaan junub karena berhubungan badan dengan isterinya bukan karena mimpi,kemudian beliau berpuasa.( HR.Bukhari: 1926, Muslim: 1109)
Abul 'Abbaas Al-Qurthuby menjelaskan bahwa diantara faidah hadist adalah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihiwasallam menggauli istrinya dan mengakhirkan mandi sampai waktu shubuh, untuk menjelaskan disyariatkannya (dibolehkannya) perkara ini. (Lihat Al-Mufhim 3/167).
Demikian pula masuk dalam masalah ini adalah wanita yang haidh dan nifas apabila darah mereka terhenti dan melihat sudah suci sebelum fajar, maka hendaknya ikut puasa bersama manusia pada hari itu sekalipun belum mandi kecuali setelah terbitnya fajar. (Lihat Al-Mufhim, Al-Qurthuby 3/166, dan Syarh Shahih Muslim, An-Nawawi 7/222).
Allohu A’lam.



Aby hadim Al-Mujtaba
Saturday, 1 May 2021

SEJARAH KEWAJIBAN PUASA










PONDOK HIKMAH BANTEN-
Tanya: Assalaamu'alaikum warahmatulloohi wabarakaatuh, Aby...ane mau nanya tentang PUASA RAMADHAN ni..dimulai sejak zaman nabi siapakah puasa Ramadhan, apakah sejak dulu satu bulan penuh Ramadhan.Jazakallohu khoiron.( yanto satpam)

Jawab:
Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh. Alhamdulillah, washsholaatu wassalaamu 'alaa rosulillah.
Kewajiban puasa ramadhan telah ada di dalam syariat umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana jelas di dalam ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa" (QS. Al-Baqoroh: 183).

Sebagian salaf mengatakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang sebelum kita adalah orang Nashrani, sebagian lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ahlul kitab, sebagian yang lain mengatakan bahwa mereka adalah semua manusia sebelum kita, 

mereka dahulu berpuasa Ramadhan penuh. Lihat atsar-atsar mereka di dalam Tafsir Ath-Thabary ketika menafsirkan ayat yang mulia ini.
Kemudian Ath-Thabary menguatkan bahwa pendapat yang paling dekat adalah yang mengatakan bahwa mereka adalah ahlul kitab, 

dan beliau mengatakan bahwa syariat puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan adalah ajaran Nabi Ibrahim, yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan ummatnya diperintahkan untuk mengikutinya. (Lihat Tafsir Ath-Thabary, tafsir Surat Al-Baqarah: 183)
Adapun kewajiban puasa Ramadhan bagi ummat Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam maka datang melalui 2 fase:
Pertama: Takhyiir (diberi pilihan)

Puasa Ramadhan saat pertama kali diwajibkan, seorang muslim yang mampu berpuasa diberi 2 pilihan, berpuasa atau memberi makan satu orang miskin, akan tetapi puasa lebih diutamakan dan dianjurkan. Berdasarkan firman Alloh ta'aalaa yang berbunyi;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184) [البقرة/183، 184]

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Yaitu dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. 
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kalian mengetahui. (QS.Al-Baqoroh: 183-184).
Salamah bin Akwa’ berkata;

كُنَّا فِى رَمَضَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ فَافْتَدَى بِطَعَامِ مِسْكِينٍ حَتَّى أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةُ (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه)

"Dahulu kami ketika di bulan Ramadhan pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam, barangsiapa yang ingin berpuasa maka boleh berpuasa, dan barangsiapa yang ingin berbuka maka dia memberi makan seorang miskin, hingga turun ayat Alloh (yang artinya); Barangsiapa yang mendapati bulan (ramadhan) maka dia wajib berpuasa". (HR.Bukhari: 4507, Muslim: 1145)

Kedua: Ilzaam (pengharusan)
Dalam fase ini maka seorang muslim yang terpenuhi syarat wajib puasa harus berpuasa dan tidak ada pilihan lain. Allah ta'aalaa berfirman:

(فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه)

Artinya: "Barangsiapa yang mendapati bulan (ramadhan) maka dia wajib berpuasa"

Pada awalnya orang yang tidur sebelum makan (berbuka puasa) atau sudah menunaikan shalat isya maka dia tidak boleh makan, minum, dan berjima' hingga hari berikutnya.

 Kemudian Allah ta'alaa memberikan keringanan dan membolehkan makan, minum, dan mendatangi istri pada malam hari penuh di bulan Ramadhan.
Allah ta'aalaa berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ [البقرة/187]

Artinya: " Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian mengkhianati diri kalian sendiri (yaitu tidak dapat menahan nafsu kalian), 
karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian, dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam" (QS.Al-Baqoroh: 187)

Demikianlah puasa diwajibkan terakhir kali dan tetap demikian hingga hari kiamat. (Lihat keterangan Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma'aad 2/30)

Kapan Puasa Ramadhan Diwajibkan?
Imam Ibnul Qoyyim rahimahulloh mengatakan: “Tatkala menundukkan jiwa dari perkara yang disenangi termasuk perkara yang sulit dan berat, maka kewajiban puasa Ramadhan tertunda hingga setengah perjalanan Islam setelah hijrah. Ketika jiwa manusia sudah mapan dalam masalah tauhid, sholat, dan perintah-perintah dalam al-Qur’an, maka kewajiban puasa Ramadhan mulai diberlakukan secara bertahap. Kewajiban puasa Ramadhan jatuh pada tahun kedua hijriah, tatkala Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam wafat, beliau sudah mengalami sembilan kali puasa Ramadhan. ( Zaadul Ma’ad 2/29)
Allohu A’lam.


Aby hadim Al-Mujtaba 

ILMU AGAMA LEBIH UTAMA DARI ILMU DUNIA

 




PONDOK HIKMAH BANTEN-"Ilmu bertambah (tumbuh berkembang) terus 

dengan diamalkan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfaqkan (dikeluarkan)"

Ilmu bertambah dengan dua cara, pertama dengan diamalkan, yang kedua dengan disampaikan kepada orang lain. 
Oleh karena itu sebagian riwayat datang dengan lafadz

 "على الإنفاق"

 yaitu bertambah ilmu tersebut dengan diinfaqkan kepada orang lain .                                    Ilmu bertambah dan tumbuh ketika diamalkan karena ilmu tersebut akan semakin menancap kokoh di dalam hatinya. Dan ilmu akan bertambah ketika disampaikan ke orang lain karena pemiliknya setiap kali menyampaikan ilmu tersebut maka pertama: ilmu yang ada di dalam hatinya akan bertambah dalam, dan yang kedua: semakin banyak orang yang mengetahui ilmu tersebut.
 Ilmu yang awalnya hanya diketahui oleh satu orang, kemudian disampaikan kepada 5 orang, maka sekarang yang mengetahui ilmu tersebut menjadi 6 orang. Dan orang yang pertama tidak akan kehilangan ilmu tersebut.

 Jadi ilmu seperti api yang awalnya kecil, apabila diambil darinya maka akan bertambah dan asalnya tidak berkurang. Bahkan sering seseorang ketika menyampaikan suatu masalah, dia justru bisa mengetahui masalah yang lain, yang sebelumnya tidak dia ketahui.

 Dan ini adalah sebagai balasan dari Allah bagi orang yang berusaha mengajari ilmu bagi manusia, Allah akan mengajari dia juga ilmu. Dalam sebuah hadist Qudsi Allah mengatakan: 

 َيَا اَبْنَ آدَمْ أَنْفِقْ أَنْفِقْ عَـلََيْك 

 "Wahai anak Adam, berinfaqlah maka Aku akan berinfaq untukmu" (Muttafaqun 'alaihi, dari hadist Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
 Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa infaq disini mencakup infaq ilmu. (Lihat Miftah Daari As-Sa'aadah 1/128). 

 Adapun harta, setiap kali dibelanjakan untuk kepentingan dunia maka dia akan berkurang jumlahnya secara zhahir. 

"Mencintai ilmu adalah termasuk agama, yang kita beribadah kepada Allah dengan rasa cinta tersebut" 

 Ilmu agama adalah warisan para nabi 'ِAlaihimussalam, Allah mencintai ilmu ini dan mencintai para pembawanya, dan mencintai apa yang dicintai Allah adalah ibadah, oleh karena itu mencintai ilmu adalah termasuk diperintahkan dalam agama dan merupakan ibadah kepada Allah. 

 Adapun mencintai harta dunia maka bukan termasuk ibadah, dan dalam keadaan tertentu bisa tercela. 
"Ilmu membuahkan ketaatan orang lain kepada orang yang berilmu tersebut semasa dia hidup" 

Maksudnya seseorang yang berilmu, ilmunya akan menjadi sebab adanya ketaatan orang lain kepadanya, tanpa adanya pemaksaan. Apabila dia berbicara akan didengar, apabila dia berpendapat akan dianggap pendapatnya, 
bahkan oleh para penguasa sekalipun. Yang demikian karena para ulama mereka tidak berbicara dan berpendapat kecuali dengan ilmu yang diambil dari firman Allah dan hadist Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. 

"Ilmu meninggalkan sebutan yang baik setelah meninggalnya orang alim tersebut"
Maksudnya seorang alim apabila meninggal maka nama baik dan jasanya akan dikenang oleh manusia sepanjang masa. 
 Lihat para ulama yang meninggal ratusan tahun yang silam, dari semenjak para sahabat sampai zaman sekarang, Allah masih mengabadikan nama mereka sampai hari ini. Nama-nama mereka banyak disebut di majelis-majelis ilmu, di kitab-kitab dan lain-lain. Buku-buku mereka masih dibaca dan memenuhi perpustakaan-perpustakaan. 

"Apa yang diperbuat karena harta akan hilang bersama kemusnahannya" Maksudnya hubungan antara manusia yang hanya didasarkan harta akan musnah bersama musnahnya harta tersebut, 

seperti seseorang yang mencintai atau menghormati orang lain karena diberi harta, maka ketika dia tidak lagi memberinya harta, diapun tidak lagi mencintai dan menghormatinya.

 Berbeda dengan hubungan dan saling mencintai karena ilmu maka ini akan kekal meskipun 'alim tersebut sudah tidak bisa memberikan ilmu karena pikun misalnya, bahkan ketika dia sudah meninggal, hati manusia masih mencintainya. 

"Orang yang menumpuk harta maka mati (nama mereka) sedang mereka dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama (namanya) akan tetap ada selamanya; jasad mereka hilang (musnah), tapi sifat-sifat teladan mereka (yaitu para ulama) ada di dalam hati (manusia)" 

 Maksudnya orang yang memiliki harta maka nama-nama mereka tidak disebut, dan tidak terkesan dalam hati manusia apabila harta tersebut tidak sampai manfaatnya kepada mereka, sehingga dia dianggap seperti orang yang sudah mati, meskipun mereka sebenarnya hidup. 

Ini berbeda dengan ilmu, dimana pemiliknya meskipun sudah meninggal tetapi tetap diingat oleh manusia dalam hati mereka dan sering disebut oleh lisan mereka, seakan-akan para ulama tersebut masih hidup. 

 Demikianlah sebagian keutamaan ilmu agama di atas harta dunia yang disebutkan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, dan Ibnul Qayyim rahimahullahu telah menyebutkan banyak keutamaan ilmu di atas harta dalam kitab beliau Miftah Daar As-Sa'aadah, diantaranya: 

 1. Ilmu adalah warisan para nabi; sedang harta adalah warisan raja dan orang kaya 
2. Ilmu ikut masuk menemani pemiliknya di alam kubur, sedang harta meninggalkan              pemiliknya. 
3. Ilmu menghakimi harta,dan harta tidak menghakimi ilmu. 
4. Ilmu yang bermanfaat hanya Allah berikan kepada orang yang beriman, 
    sedang harta Allah berikan kepada orang mu'min maupun kafir. 
5. Seorang 'alim dibutuhkan oleh semua orang dari para raja sampai rakyat jelata,                    sedangkan orang kaya yang butuh kepadanya hanya orang miskin. 
6. Ilmu mengajak pemiliknya untuk tawadhu' dan ikhlash kepada Allah, sedang harta              mengajak pemiliknya untuk pamer, menyombongkan diri, bermaksiat serta menyembah .   kepada harta tersebut. 
7. Kelezatan ilmu terus menerus dirasakan, baik ketika diawal dia mendapatkan atau ketika dia mengamalkan dan menyampaikannya. Sedangkan harta nikmatnya hanya di awal ketika dia baru mendapatkannya. Dan bukanlah maksud dari apa yang kita sampaikan di atas, adalah anjuran meninggalkan dunia secara total. Silakan kita bekerja mencari dunia namun jadikanlah ilmu sebagai imam dan pedoman, jadikanlah harta mau diatur dengan ilmu agama. Ilmu agama mengatur supaya kita mencari harta yang halal dan meninggalkan yang haram. Ilmu agama menyuruh kita bertawakkal kepada Allah dan tidak bertawakkal kepada sebab. Ilmu menyuruh kita untuk qanaah (merasa cukup dengan pemberian Allah), meyakini bahwa rezeki sudah ditetapkan oleh Allah, tidak akan bertambah dan tidak berkurang, menggunakan harta di jalan Allah dan tidak menggunakannya dalam kemaksiatan, dan ilmu agama menyuruh kita supaya harta dunia tidak melalaikan kita dari akhirat. Demikian, wa aakhiru da'waanaa anil hamdu lillahi rabbil 'alamin.

Ay hadimAl-Mujtaba
Friday, 30 April 2021

ILMU AGAMA LEBIH PENTING DARI PADA HARTA

 







PONDOK HIKMAH BANTEN-"Ilmu lebih baik daripada harta

Ini adalah kalimat yang global, sebelum  beliau. menyebutkan secara terperinci segi-segi kebaikan ilmu dibanding harta., yang demikian supaya pendengar menyiapkan dirinya untuk mendengar apa yang akan disampaikan.

Dan yang dimaksud dengan ilmu disini adalah ilmu agama, ilmu yang bermanfaat. Sedangkan harta disini adalah harta yang dicari bukan karena ketaatan kepada Allah tetapi hanya karena kesenangan dunia semata.

" Ilmu menjagamu, sedang harta engkau yang menjaganya"
Maksudnya adalah ilmu menjadi sebab Allah menjaga dirimu, menjagamu dari kebinasaan di dunia maupun akhirat.
Menjaga seseorang dari kebinasaan di akhirat, karena dengan ilmu agama seseorang bisa mengetahui perintah Allah sehingga dia bisa laksanakan, dan bisa mengetahui larangan Allah sehingga bisa dia jauhi. Dengan sebab ilmu ini Allah menyelamatkan dia dari hal-hal yang membuat murka Allah sehingga dia bisa selamat dari adzab neraka dan masuk ke dalam surga Allah.

Adapun menjaga seseorang dari kebinasaan di dunia, maka Allah akan menjaga seseorang dengan ilmu tersebut dimanapun dia berada. Diantara contoh penjagaan ilmu terhadap seseorang adalah kisah seseorang yang membunuh 100 orang seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لَا، فَقَتَلَهُ، فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ، فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟

"Dari Abu Sa'id Al-Khudry radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Allah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda: Dahulu kala di antara ummat sebelum kalian ada seorang lelaki yng membunuh 99 orang, maka dia bertanya tentang orang yang paling 'alim di atas permukaan bumi, maka dia ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah, maka diapun mendatanginya seraya berkata bahwa dia telah membunuh 99 orang , 

apakah dia masih diterima taubatnya? Maka ahli ibadah itupun menjawab: Tidak (diterima taubatnya); maka orang tersebut membunuh ahli ibadah itu sehingga genaplah menjadi 100. Kemudian dia bertanya lagi , siapa orang yang paling 'alim di permukaan bumi ?

 Maka ditunjukkan kepada seorang 'alim, dan diapun mengabarkan bahwa dia telah membunuh 100 orang, apakah taubatnya masih diterima? Maka 'alim tersebut mengatakan: Iya, apa yang menghalangi dia untuk diterima taubatnya?... (HR. Muslim)
Lihatlah bagaimana ilmu menjadi sebab terjaganya 'alim tersebut dari kebinasaan.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa ilmu menjaga pemiliknya dari kecelakaan dan musibah, karena seseorang pada asalnya tidak mungkin memasukkan dirinya dalam kebinasaan apabila dia memiliki akal, dan tidak mungkin dia menjerumuskan jiwanya dalam kehancuran kecuali apabila dia jahil/ bodojh.

Contohnya seperti orang yang memakan makanan yang beracun, maka orang yang tahu makanan tersebut beracun akan menahan diri dan tidak mau memakannya, tapi orang yang tidak tahu akan memakannya dan teracuni karena kebodohannya

Dan orang yang mengenal Allah, perintah dan laranganNya, mengetahui musuh dan tipu dayanya dalam menyesatkan manusia, dengan ilmunya dia bisa selamat dari was-was syetan. Setiap kali syetan berusaha menyesatkan dia dari jalan Allah maka ilmu dan iman tersebut mengingatkan dia sehingga dia kembali kepada Allah. (Lihat Miftaah Daari As-Sa'aadah 1/128)

Sedangkan harta, maka pemiliknya setelah lelah dalam mencarinya maka dia juga harus lelah dalam menjaganya, siang dan malam dia dalam keadaan cemas, resah, dan gelisah memikirkan harta yang dia dapatkan, bagaimana supaya harta tersebut aman, bertambah terus dan tidak berkurang. Dimanapun dia letakkan harta tersebut dia merasa tidak aman, dan dia akan bertambah stres bila harta tersebut benar-benar hilang atau berkurang.

Allah ta'alaa berfirman:

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ


"Maka janganlah membuat kamu kagum harta dan anak-anak mereka, sesungguhnya Allah ingin mengadzab mereka dengannya di kehidupan dunia ini, dan menjadikan resah jiwa mereka, sedangkan mereka dalam keadaan kafir" (QS. At-Taubah : 55)

Dan di akhirat dia akan mendapat perhitungan yang panjang, dia akan ditanya tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia dapatkan, sebagaimana hadist dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu 'anhu beliau berkata: Rasulullah shallallhu 'alaihiwasallam bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

"Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga dia ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, dan tentang ilmunya; apa yang telah dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia belanjakan, dan ditanya tentang jasadnya; untuk apa dia gunakan" (HR. At-Tirmidzy, dishahihkan Syeikh Al-Albany)
Jadi harta dunia bila dicari hanya karena kelezatan semata dan bukan karena Allah, maka akan menyusahkan pemiliknya di awal (ketika di mencari), di tengah (ketika dia menjaganya), dan di akhir kelak(ketika menghadapi hari perhitungan).

Aby Hadim Al-Mujtaba 
Thursday, 29 April 2021

TAUKAH ANDA PUASA ITU.?

 

Ternyata Puasa bisa Menyembuhkan  berbagai penyakit Terutram Penyakit Maag





Puasa Ramadan ialah puasa yang sangat dianjurkan bahkan wajib hukumnya bagi umat muslim yang sehat. 

Ada beberapa penyakit yang dapat menjadi sebab diperbolehkannya seorang muslim untuk tidak berpuasa, namun bukan sembarang penyakit saja. Hanya penyakit kronis saja yang bisa menjadi penghalang untuk berpuasa, seperti kanker, tumor bahkan maag akut. 

Namun, menurut beberapa sumber, penyakit maag dapat disembuhkan dengan berpuasa. 

Dari berbagai manfaat puasa, salah satu manfaatnya untuk kesehatan adalah bisa membantu menyembuhkan penyakit maag (lambung). Hal ini seperti yang dikutip dari buku The Miracle of Fast yang menjelaskan bahwa sejumlah dokter telah menegaskan bahwa puasa punya kemampuan efektif untuk mengobati ragam penyakit dan meringankan perasaan nyeri. 

Misalnya saja, penyakit radang usus besar dan radang kandungan empedu. Manfaat tersebut bisa didapat karena puasa dapat membuat seluruh organ tubuh beristirahat setelah mengerahkan energi berlebihan setiap hari.

Selama ibadah puasa yang kita lakukan sesuai dengan pola hidup sehat dengan tetap memenuhi syarat sah puasa, tubuh bisa mendapat banyak manfaat sehatnya. Lalu bagaimana kaitan antara aktivitas puasa yang bisa bantu mengatasi penyakit maag? 

1. Puasa dapat menstabilkan usus besar karena ketenangan batin yang dialami oleh orang yang berpuasa Dengan puasa, hilanglah gejala-gejala penyakit usus besar, seperti sakit perut, masuk angin, kembung, gangguan pada usus, diare, dan sembelit. Selama puasa kita lakukan dengan niat kuat untuk ibadah, tubuh bisa menyesuaikan dirinya untuk bertahan menstabilkan diri dengan baik. 

2. Puasa bisa bekerja menyeimbangkan persentase asam di dalam lambungSaat puasa, tubuh akan berusaha menyeimbangkan persentase asam di lambung. Kita tahu sendiri kan kalau asam ini dianggap sebagai penyebab utama munculnya penyakit maag. Dengan puasa, tubuh bisa mengatur distribusi asam yang mengganggu sistem pencernaan di lambung. 

Puasa memang bisa jadi obat untuk berbagai penyakit. Manfaatnya untuk kesehatan bisa begitu positif. Tapi juga perlu diingat bahwa anda juga perlu memahami dengan baik kondisi tubuh dan kesehatan anda saati ini. Pada kasus-kasus tertentu, seseorang bisa saja tidak dimungkinkan dapat berpuasa karena gangguan atau masalah kesehatan yang kronis.

Selamat berpuasa. Semoga puasa tahun ini lebih baik dari pada tahun sebelumnya.

Sumber:  pondokhikmahbanten.com


Penulis =: Aby hadimAl-Mujtaba.