Showing posts with label DAKWAH. Show all posts
Showing posts with label DAKWAH. Show all posts
Tuesday, 25 May 2021

MENCARI ILMU

 PONDOK NIKMAH BANTEN.Berkata Amirul Mu'minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu kepada Kumail bin Ziyad:











يا كميلُ بن زياد! القلوبُ أوعيةٌ؛ فخيرها أوعاها؛ احفظْ ما أقول لك: الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ
 ربَّانيٌّ، ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ، وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّ ناعقٍ يميلون مع كلِّ رِيح؛ لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجَئوا إلى ركنٍ وثيقٍ؛
العلمُ خيرٌ من المال: العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُ المالَ، العلمُ يزكُوْ على العمل والمالُ تنقُصُه النفقةُ، ومحبةُ العالم دينٌ يُدان بها، العلمُ يُكسِب العالمَ الطاعةَ في حياته وجميلَ الأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُ المال تزول بزواله، مات خُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ، والعلماءُ باقُون ما بقي الدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ.

"

Wahai Kumail bin Ziyaad! Hati adalah tempat, kemudian hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan); hafalkanlah apa yang tentu aku kattentu kepadamu !

Manusia ada tiga (kaum): alim rabbani (ulama), penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan, dan orang biasa yang mencontoh setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai karena arah angin (kemanapun diarahkan) , tak menerangi diri karena cahaya ilmu, dan tak berpegangan karena pegangan yang kuat ".


Ilmu lebih baik daripada harta:

-Ilmu menjagamu, sedang harta engkau yang menjaganya.

-Ilmu bertambah terus karena diamalkan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfaqkan .

-Mencintai orang yang berilmu (ulama) anasirdari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah.

-Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati tatkala hidupnya dan disebut karena kebaikan setelah matinya.

-Apa yang dihasilkan oleh harta tentu hilang bersama kemusnahannya.

-Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama tentu tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia.

Takhrij Atsar:

Atsar yang sebenarnya panjang ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim Al-Ashfahaani dalam Hilyatul Auliya' (1/79), dan Al-Khathiib Al-Baghdaady dalam Taarikh Baghdaad (6/379).

Pada sanadnya, ada riwayat yang dibicartentu oleh ulama tentang kelemahannya. Namun Ibnul Qayyim rahimahullah mengattentu kemudiankemasyhuran (dikenalnya) atsar ini diantara ulama sudah cukup (sebagai sandaran), sehingga tak perlu melihat sanadnya. (Lihat I'laamul Muwaqqi'iin 2/195).

Penjelasan Atsar ini:

Di masa Amirul Mu'minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu darul khilafah (pusat pemerintahan) yang sebelumnya berada di Madinah, berpindah ke Kuufah, salah satu kota di Iraq. Disana ia memiliki murid-murid yang memetik ilmu dari ia. Diantaranya adalah Kumail bin Ziyad An-Nakha'i Al-Kuufi rahimahullah, seorang tabi'in, meninggal tahun 82 H, yang telah dinilai tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Hajar Al-Asqalaniy, namun ia dianggap memiliki paham tasyayyu' (ketentuan mengedepankan Ali di atas 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhuma). ia meriwayatkan hadist dari Umar bin Al-Khaththab, Ali bin Abu Thalib, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Mas'uud radhiyallahu 'anhum. Diantara riwayat yang meriwayatkan dari ia: Abu Ishaq Al-Hamadaani, Sulaiman bin Mihraan Al-A'masy dan lain-lain.

"Wahai Kumail bin Ziyaad! Hati adalah tempat, kemudian hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan)"

Hati adalah tempat, yaitu tempat untuk menampung ilmu. Ini menunjukkan kedudukan dan pungsi hati dalam menimba ilmu agama, yaitu sebagai tempat. Ini adalah isyarat agar seorang penuntut ilmu memperhatikan hatinya dan menjaga kebersihannya; agar menjadi tempat yang baik bagi ilmu yang dia dapatkan.

Ibarat rumah apabila bersih, rapi, nyaman, tentu tentu betah orang yang tinggal di dalamnya; sebaliknya rumah yang kotor dan beranttentu, berkeliaran kecoak dan tikus, berbau dan lain-lain; tentunya orang tak tentu betah tinggal didalamnya.

Demikian pula hati sebagai tempat ilmu, apabila bersih tentu menetap ilmu yang masuk, dan apabila kotor karena kemaksiatan dan dosa kemudian ilmu tersebut tak tentu betah bertempat tinggal di hati tersebut. Semakin kotor hatinya semakin tak betah padanya.

Oleh karena itu seorang penuntut ilmu hendaknya menghindari dosa dan maksiat; baik maksiat karena melihat, mendengar, berbicara, atau dosa karena hati seperti membayangkan (sesuatu yang diharamkan) , hasad, sombong dan lain-lain. Apabila melakukan dosa kemudian hendaknya dia segera membersihkan hati karena memperbanyak istighfar dan bertaubat. Yang demikian itu, agar dia dimudahkan oleh Allah untuk menerima ilmu agama, menghafalnya, dan memahaminya. Tidak mungkin seseorang bisa menggapai ilmu agama yang bermanfaat hanya karena menghadiri majelis ilmu, membaca, menghafal saja, tapi harus menjaga kebersihan tempatnya karena meninggalkan kemaksiatan.

Inilah kuncii kuatnya hafalan para salaf dan para ulama, sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan mereka sendiri.

Imam Asy-Syafi'iy rahimahullah mengattentu:


شَكَوْتُ إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ المعَاصي
وَأخْبَرَنِي بأَنَّ العِلْمَ نُورٌ ونورُ الله لا يهدى لعاصي


-Aku mengadu kepada Waki' (yaitu Waki' bin Al-Jarraah Ar-Ru'aasy, guru Imam Asy-Syafi'i) tentang buruknya hafalanku ; kemudian ia menasehatiku agar aku meninggalkan kemaksiatan

-Dan ia mengabarkan kepadaku kemudianilmu adalah cahaya ; dan cahaya Allah tak diberikan kepada orang yang bermaksiat.

Waki' bin Al-Jarraah rahimahullah pun pernah berkata kepada Ali bin Khasyram:

اسْتَعِنْ عَلَى الْحِفْظِ بِقِلَّةِ الذُّنُوْبِ

"Bantulah dirimu dalam menghafal karena hanya memiliki sedikit dosa (mengurangi dosa)". (Atsar ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu'abul Iman 2/272 no: 1734 )

Sufyan bin 'Uyainah rahimahullah pun pernah ditanya: Bagaimana caramu mendapatkan hafalan (yang kuat)? ia berkata:

 بِتَرْكِ الْمَعَاصِيْ

"(Aku mendapatkan hafalan yang kuat) karena meninggalkan kemaksiatan" (Atsar ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu'abul Iman 2/272 no: 1735)

" Hafalkanlah apa yang tentu aku kattentu kepadamu"

"Manusia ada tiga (kaum) "

Ini adalah hasil pengamatan Ali radhiyallahu 'anhu, kemudianmanusia tak keluar dari 3 kaum ini. Dan yang dimaksud karena manusia disini –wallahu a'lam- adalah umat islam.

"Alim Rabbani (ulama) "

Ini adalah kaum pertama dan tertinggi tingkatannya, yaitu kaum alim rabbani, mereka adalah para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan mengajarkannya kepada orang lain secara bertahap (dari tingkat yang paling rendah, akhirnya ilmu yang lebih tinggi dari sebelumnya). Seorang 'alim yang tak mengamalkan; tak dinamtentu rabbani walaupunpun ia ajarkan ilmunya kepada orang lain. Dan seorang 'alim yang mengamalkan ilmunya apabila tak diajarkan kepada orang lain pun tak dinamtentu rabbani.

"Penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan"

Golongan kedua adalah kaum para penuntut ilmu, yang mereka sedang menempuh jalan keselamatan. Penuntut ilmu agama yang memiliki hasrat yang benar dan mengamalkan dialah yang dimaksud oleh Amirul Mukminin radhiyallahu 'anhu.

"Dan orang biasa yang mencontoh setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai karena arah angin (kemanapun diarahkan) , tak menerangi diri karena cahaya ilmu, dan tak berpegangan karena pegangan yang kuat "

Ini adalah kaum ketiga, yaitu kaum orang-orang biasa, mereka bukan orang alim, atau orang yang berusaha untuk menjadi orang alim (yaitu muta'allim). Keadaan mereka seperti yang ia sifatkan, hamajun ri'aa', orang-orang yang dungu, mencontoh setiap orang yang berteriak , artinya setiap ada yang datang mengajak kepada sesuatu kemudian dia mencontohnya, tak mempertimbangkan baik buruknya dan benar salahnya.

" mereka condong sesuai karena arah angin" seperti pohon yang lemah, yang senantiasa mencontoh arah angin.

Tidak menerangi diri karena cahaya ilmu dan tak berpegangan karena pegangan yang kuat " setelah menyebutkan keadaan kaum ketiga; ia menyebutkan dua sebab kenapa mereka menjadi demikian, yang pertama karena tak berusaha menyinari hatinya karena cahaya ilmu, ridha karena kejahilan, akibatnya menjadi orang yang tak memiliki pendirian yang kuat. Berbeda karena orang yang memiliki ilmu, dimana ia berjalan bersamanya ilmu yang ia miliki, Allah berfirman:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا ) الأنعام/122)

"Apakah orang yang dulunya mati (hatinya) kemudia Kami hidupkan  kembali, dan Kami berikan kepadanya cahaya (ilmu dan hidayah) yang dia berjalan karena cahaya tersebut ditengah-tengah manusia, apakah sama dia karena orang yang berada di dalam kegelapan-kegelapan (kesesatan) yang dia tak bisa keluar darinya" (QS. Al-An'aam:122)

Yang kedua karena tak mau bertanya kepada orang yang berilmu, sehingga akhirnya tersesat.

Golongan yang ketiga ini walaupun jumlahnya yang paling banyak, mereka adalah kaum yang paling rendah derajatnya disisi Allah. Bahkan kalau diperhatikan, taklah terjadi fitnah dan kekacauan di sebuah negeri kecuali berasal dari kaum yang ketiga ini.

Di dalam pemanasirmanusia menjadi tiga kaum tersebut, terdapat dorongan dan anjuran bagi kaum muslimin untuk menuntut ilmu agama, dan mengingatkan mereka agar jangan menjadi orang yang jahil terhadap agama, sehingga mudah terpengaruh karena kesesatan. 

Janagan Lupa  Baca juga  : Religi Ziaroh Wali-Wali Karomah Bnaten.


Artikel :Aby hadiam Al-Mujtaba
Friday, 7 May 2021

BACAAN NIAT ZAKAT LENGKAP,

 

PONDOK HIKLMAH AL-BAROKAH BANTEN.

Artikel: Aby hadim Al-Mujtaba.

Bacaan Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga, Lengkap Beserta Terjemahannya



PONDOK HIKMAH AL-BAROKAH BANTEN - Zakat fitrah adalah zakat yang bertujuan untuk membersihkan harta dan sebagai pelengkap ibadah puasa di bulan Ramadan. Tanpa zakat fitrah, puasa Ramadan kita tidak terlengkapi.

Jadi, zakat fitrah merupakan kewajiban setiap orang Muslim, baik anak kecil maupun orang dewasa, harus menunaikannya untuk menyempurnakan puasa Ramadan.

Besar zakat fitrah yang ditunaikan berdasarkan syariah Islam yaitu 2,5 kg beras atau makanan pokok lainnya. Jika membayar dengan uang, maka wajib bayar sesuai harga 2,5 kg beras per individu.

Adapun waktu pelaksanaan zakat fitrah dimulai pada awal atau pertengahan bulan Ramadan, hingga akhir Ramadan, tepatnya sebelum salat Idulfitri.

Dalam menunaikannya zakat fitrah, terdapat doa niat dari pembayar zakat yang diucapkan kepada amil atau pengelola zakat. Itulah mengapa, penting untuk mengetahui niat zakat fitrah.

Berikut ini kumpulan bacaan niat zakat fitrah saat bulan Ramadan lengkap beserta terjemahannya, seperti disadur dari Liputan6.com, Selasa (4/5/2021). 


2. Niat Zakat Fitrah dan Artinya untuk Diri Sendiri Serta Keluarga

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَنِّيْ ﻭَﻋَﻦْ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﺎ ﻳَﻠْﺰَﻣُنِيْ ﻧَﻔَﻘَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri anni wa an jami’i ma yalzimuniy nafaqatuhum syar’an fardhan lillahi ta’ala

Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang nafkahnya menjadi tanggunganku fardhu karena Allah Taala."





3. Niat Zakat Fitrah untuk Anak Perempuan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺑِﻨْﺘِﻲْ … ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri ‘an binti fardhan lillahi ta’ala

Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak perempuanku ……(sebutkan nama), fardhu karena Allah Taala."


4. Niat Zakat Fitrah dan Artinya untuk Anak Laki - Laki

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻭَﻟَﺪِﻱْ … ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri ‘an waladi fardhan lillahi ta’ala

Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak laki-lakiku ……(sebutkan nama), fardhu karena Allah Taala."



5. Zakat Fitrah untuk Orang yang Diwakilkan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ (..…) ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri ‘an (……) fardhan lillahi ta’ala

Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk……..(sebutkan nama spesifik), fardhu karena Allah Taala."

7 dari 7 halaman



6. Zakat Fitrah untuk Istri

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri ‘an zaujati fardhan lillahi ta’ala

Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk istriku fardhu karena Allah Taala."

Lalu, penerima zakat atau amil hendaknya mendoakan kembali dengan kata-kata yang baik, contohnya:

ﺁﺟَﺮَﻙ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﻋْﻄَﻴْﺖَ، ﻭَﺑَﺎﺭَﻙَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﺑْﻘَﻴْﺖَ ﻭَﺟَﻌَﻠَﻪُ ﻟَﻚَ ﻃَﻬُﻮْﺭً

Aajaraka Allahu fiima a’thayta, wa baaraka fiima abqayta wa ja’alahu laka thahuran

Artinya: "Semoga Allah memberikan pahala atas apa yang engkau berikan, dan semoga Allah memberikan berkah atas harta yang kau simpan dan menjadikannya sebagai pembersih bagimu."


demikian Niat mengeluarkan Zakat Fitrah 

Bersama : Aby hadim Al-Mujtaba 

 

Tuesday, 4 May 2021

HUKUM AQIQOH


Bagaimana Mengaqiqohi anak yang sudah meninggal




PONDOK HIKMAH AL-BAROKAH BANTEN-                          Tanya: Assalamualaikum.Wr. Wb. Aby hadim, Saya mau nanya Bagaimana hukumnya mengaqiqahkan anak yang sudah wafat? 

Apakah kewajiban orang tua belum gugur? Mohon dijawab terima kasih. Wassalamualaikum. (Ardiansyah Permadi)

Jawab:
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Alhamdulillah washshalatu wassalamu 'alaa rasulillah.

Aqiqah termasuk sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang dianjurkan. Berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak, diantaranya dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Artinya: "Setiap bayi tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan kambing pada hari ke-7, dicukur rambutnya serta diberi nama" (HR.Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’iy, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Abdul Haq, lihat at-Talkhis 4/1498 oleh Ibnu Hajar)

Maksud tergadaikan di sini adalah tertahan dari suatu kebaikan yang seharusnya diperoleh jika ia diaqiqahi. Karena seorang bisa kehilangan memperoleh kebaikan karena perbuatannya sendiri atau karena perbuatan orang lain. (Lihat Tuhfatul Maudud,Ibnul Qayyim hal.122-123, tahqiq: Syeikh Salim al-Hilali)

Berdasarkan perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits diatas maka tidak selayaknya meninggalkan aqiqah jika mampu. Bahkan kebiasaan para salaf mereka senantiasa melaksanakan aqiqah untuk anak-anak mereka.

Yahya al-Anshori rahimahullahu mengatakan: “Aku menjumpai manusia dan mereka tidak meninggalkan aqiqah dari anak laki-laki maupun perempuan”. (Al-Fath ar-Robbani, Ibnul Mundzir 13/124, lihat Ahkam al-Maulud hal.51, Salim bin Ali Rosyid as-Sibli dan Muhammad Kholifah Muhammad Robah)

Berhubungan dengan mengaqiqahi orang yang sudah meninggal maka tidak lepas dari tiga keadaan;

Pertama: Orang tua mengaqiqahi anak yang telah meninggal. Jika anak tersebut meninggal ketika sudah terlahir ke dunia, tetap disyariatkan untuk diaqiqahi.
Dan jika meninggalnya masih dalam kandungan dan sudah berusia 4 bulan maka disyariatkan aqiqah, jika kurang dari 4 bulan maka tidak disyariatkan.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Apabila janin itu keguguran setelah ditiupkannya ruh maka janin tersebut dimandikan, dikafani, disholati dan dikubur di pekuburan kaum muslimin, serta diberi nama dan diaqiqahi. Karena dia sekarang telah menjadi seorang manusia, maka berlaku pula baginya hukum orang dewasa”. (Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah hal.90, Ibnu Utsaimin)

Kedua: Anak mengaqiqahi orang tua yang sudah meninggal. Hukumnya tidak disyariatkan, karena perintah aqiqah ditujukan kepada orang tua bukan kepada anak
.
Ketiga: Mengaqiqahi seorang manusia yang telah meninggal. Jika ada seseorang yang meninggal dan dia semasa hidupnya belum diaqiqahi, maka tidak disyariatkan bagi ahli warisnya untuk mengaqiqahinya. Allohu A’lam. (Faedah ini kami dapat dari Syaikhuna Saami bin Muhammad as-Shuqair, murid senior dan menantu Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin, Jazaahullohu Khoiron).



Aby hadim Al-Mujtaba
Saturday, 1 May 2021

SEJARAH KEWAJIBAN PUASA










PONDOK HIKMAH BANTEN-
Tanya: Assalaamu'alaikum warahmatulloohi wabarakaatuh, Aby...ane mau nanya tentang PUASA RAMADHAN ni..dimulai sejak zaman nabi siapakah puasa Ramadhan, apakah sejak dulu satu bulan penuh Ramadhan.Jazakallohu khoiron.( yanto satpam)

Jawab:
Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh. Alhamdulillah, washsholaatu wassalaamu 'alaa rosulillah.
Kewajiban puasa ramadhan telah ada di dalam syariat umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana jelas di dalam ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa" (QS. Al-Baqoroh: 183).

Sebagian salaf mengatakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang sebelum kita adalah orang Nashrani, sebagian lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ahlul kitab, sebagian yang lain mengatakan bahwa mereka adalah semua manusia sebelum kita, 

mereka dahulu berpuasa Ramadhan penuh. Lihat atsar-atsar mereka di dalam Tafsir Ath-Thabary ketika menafsirkan ayat yang mulia ini.
Kemudian Ath-Thabary menguatkan bahwa pendapat yang paling dekat adalah yang mengatakan bahwa mereka adalah ahlul kitab, 

dan beliau mengatakan bahwa syariat puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan adalah ajaran Nabi Ibrahim, yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan ummatnya diperintahkan untuk mengikutinya. (Lihat Tafsir Ath-Thabary, tafsir Surat Al-Baqarah: 183)
Adapun kewajiban puasa Ramadhan bagi ummat Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam maka datang melalui 2 fase:
Pertama: Takhyiir (diberi pilihan)

Puasa Ramadhan saat pertama kali diwajibkan, seorang muslim yang mampu berpuasa diberi 2 pilihan, berpuasa atau memberi makan satu orang miskin, akan tetapi puasa lebih diutamakan dan dianjurkan. Berdasarkan firman Alloh ta'aalaa yang berbunyi;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184) [البقرة/183، 184]

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Yaitu dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. 
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kalian mengetahui. (QS.Al-Baqoroh: 183-184).
Salamah bin Akwa’ berkata;

كُنَّا فِى رَمَضَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ فَافْتَدَى بِطَعَامِ مِسْكِينٍ حَتَّى أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةُ (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه)

"Dahulu kami ketika di bulan Ramadhan pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam, barangsiapa yang ingin berpuasa maka boleh berpuasa, dan barangsiapa yang ingin berbuka maka dia memberi makan seorang miskin, hingga turun ayat Alloh (yang artinya); Barangsiapa yang mendapati bulan (ramadhan) maka dia wajib berpuasa". (HR.Bukhari: 4507, Muslim: 1145)

Kedua: Ilzaam (pengharusan)
Dalam fase ini maka seorang muslim yang terpenuhi syarat wajib puasa harus berpuasa dan tidak ada pilihan lain. Allah ta'aalaa berfirman:

(فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه)

Artinya: "Barangsiapa yang mendapati bulan (ramadhan) maka dia wajib berpuasa"

Pada awalnya orang yang tidur sebelum makan (berbuka puasa) atau sudah menunaikan shalat isya maka dia tidak boleh makan, minum, dan berjima' hingga hari berikutnya.

 Kemudian Allah ta'alaa memberikan keringanan dan membolehkan makan, minum, dan mendatangi istri pada malam hari penuh di bulan Ramadhan.
Allah ta'aalaa berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ [البقرة/187]

Artinya: " Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian mengkhianati diri kalian sendiri (yaitu tidak dapat menahan nafsu kalian), 
karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian, dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam" (QS.Al-Baqoroh: 187)

Demikianlah puasa diwajibkan terakhir kali dan tetap demikian hingga hari kiamat. (Lihat keterangan Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma'aad 2/30)

Kapan Puasa Ramadhan Diwajibkan?
Imam Ibnul Qoyyim rahimahulloh mengatakan: “Tatkala menundukkan jiwa dari perkara yang disenangi termasuk perkara yang sulit dan berat, maka kewajiban puasa Ramadhan tertunda hingga setengah perjalanan Islam setelah hijrah. Ketika jiwa manusia sudah mapan dalam masalah tauhid, sholat, dan perintah-perintah dalam al-Qur’an, maka kewajiban puasa Ramadhan mulai diberlakukan secara bertahap. Kewajiban puasa Ramadhan jatuh pada tahun kedua hijriah, tatkala Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam wafat, beliau sudah mengalami sembilan kali puasa Ramadhan. ( Zaadul Ma’ad 2/29)
Allohu A’lam.


Aby hadim Al-Mujtaba 

Tuesday, 23 March 2021

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN



Tingkatkan Ibadah dibulan Ramadhan


 Pondok Hikmah Al-Barokah,

Oleh: Aby hadim Al-Mujtaba

Assalamualaikum.Wr Wb.

Ikhwan/ikhwat Rahimakumullah

Ramadhan merupakan bulan panen pahala. 

Keistimewaan Ibadah dibulan Suci Ramadhan sungguh sangat besar pahlanya bila di bandingkan dengan ibadah bulan yang lainnya, ibadah dibulan Ramadhan,yang hukumnya wajib dilipatgandakan 70 kali lipat oleh Allah dan sunah disejajarkan dengan ibadah wajib. di bulan suci Ramadhan ini Allah SWT akan memberikan ampunan dosa bagi  orang  menyadari akan dosaya serta meningkatkan ibadah dan rajin membaca istighfar .

Di antara sarana itu, yakni shalat Tarawih. Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang pada siang harinya melaksanakan puasa dan malam harinya melaksanakan Shalat malam yakni  Shalat tarawih,tadarus Al-Qur'an tahajud dan lain-lainnya dengan keimanan maka dosanya yang terdahulu akan diampuni.” ( HR al-Bukhari dan Muslim).

Dosa yang diampuni, menurut Ibnu Al Mundzir, yaitu dosa besar dan kecil.

Ibadah dibulan Suci Ramadgan ini merupakan ibadah yang paling agung pada bulan suci Ramadhan ini menggabungkan dua jihad untuk melawan nafsunya; jihad siang hari melalui puasa dan jihad malam hari melalui qiyamullail. 

Mumpung kita masih bisa ketemu dengan bulan suci Ramadhan, kita harus berusaha semaksimal mumlin melaksanakan ibadah di bulan suci ini, siang kita bepuasa malamnya kita Shalat Tarawih dengan berjamaah sampai usai agar mendapatkan pahala yang maksimal di Ramadan tahun ini.

dan semoga kita di berikan panjang umur bisa ketemu lagi di Ramadha tahun yang akan datang 


Bersambung : Insya Allah


Sunday, 21 March 2021

RAMADHAN PENUH

Bulan Suci Ramadahan Telah tiba

Assalamualaikum.Wr Wb.

Ikhwan /Ikhwat Rahimakumullah.

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat beserta salam semoga tercurah atas Rasulillah.SAW. beserta keluarga dan para sahabatnya.


Keutamaan ibdah di bulan Suci Ramadhan perlu kita tingkatkan, karena didalamnya dalamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa yang menyia-nyiakan kebaikan didalamnyanya, sungguh ia orang merugi. setiap muslim hendaknya merasa gembira dengan akan datangnya bulan suci Ramadhan tiba.


Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepada para sahabatnya,


Telah  datang kepada kamu semua bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Bulan yang yang dalamnya ada kewajiban ibadah puasa fardhu,

Pada bulan itu di dalamnya ada suatu malam yang sangat istimewa yakni 1 malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni malam yang disebut lailayul QAdar


Hendaknya seorang mukmin merasa  bergembira dan gembira dengan datangnya bulan (Ramadhan) ini. Ia bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amal shalih di dalamnya. kita harus bergembira dengan kedatangan bulan suci Ramadhan, sebagaimana Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyampaikan kegembiraan kepada sahabatnya dengan kedatangan bulan mulia ini.silakan simak kelanjutannya 

Di.  Artikel Pondok Hikmah Al-Barokah 

Bersama:  ( Abu hadim, Al-Mujtaba)

Bersama : Aby hadim Al-Mujtaba)