Showing posts with label DAKWAH. Show all posts
Showing posts with label DAKWAH. Show all posts
Wednesday, 26 May 2021

GERHANA BULAN

Amalan Utama Ketika Gerhana Bulan Atau Matahari

PONDOK HIKMAH BANTEN-Ikhwan /ikhwat.Bersiap. Pada hari ini, Rabu 26 Mei 2021, masyarakat di Indonesia akan disuguhi fenomena astronomi berupa Gerhana Bulan Total (GBT). Kabarnya, GBT akan terjadi pada sore hari menjelang malam, atau sekitar pukul 18.18 WIB. 

Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Rahmat Triyono mengatakan, Gerhana Bulan Total ini aman untuk disaksikan. 

Oleh karena itu bagi Umat Islam ada nya penomena alam ini bukan hanya untk dilihat dan di abadikan  melainmkan , tetapi pada kejadian penomena alam itu ada ibada yang Sunah dilaksanakan. 



 Gerhana Bulan dan gerhana Matahari adalah fenomena alam yang sangat menakjubkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan contoh terbaik tentang amalan utama ketika gerhana bulan atau gerhana matahari terjadi.

Apa saja amalan utama yang dianjurkan untuk dikerjakan ketika terjadi gerhana?

Berikut ini delapan amalan utama yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika terjadi gerhana Matahari atau gerhana Bulan.

 

Amalan Pertama: Melaksanakan Shalat Kusuf atau Shalat Khusuf

Amalan utama ketika gerhana bulan atau gerhana matahari terjadi adalah shalat.

Shalat Kusuf adalah shalat yang dilaksanakan ketika terjadi gerhana Matahari.

Shalat ini disebut dengan shalat Kusuf asy-Syams. Kusuf artinya tertutup. Asy-Syams artinya Matahari.

Istilah Kusuf asy-Syams dalam kamus bahasa Arab telah populer diartikan dengan gerhana Matahari.

Shalat Khusuf adalah shalat yang dilaksanakan ketika terjadi gerhana Bulan.

Shalat ini disebut dengan shalat Khusuf al-Qamar. Khusuf artinya terbenam. Al-Qamar artinya Bulan.

Sama seperti Kusuf asy-Syams, istilah Khusuf al-Qamar juga telah populer dalam kamus diartikan dengan gerhana Bulan.

Shalat Kusuf dan shalat Khusuf adalah amalan yang paling utama untuk dilaksanakan ketika terjadi gerhana. Baik gerhana Bulan ataupun gerhana Matahari.

Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian atau lahirnya seseorang, jika kalian melihatnya (gerhana) maka laksanakanlah shalat.” (HR. Ibnu Majah No. 1253)

Imam Ibnu Hajar menjelaskan, penggunaan kalimat fafza’u dalam hadits di atas mengandung isyarat untuk segera melaksanakan amalan yang diperintahkan. Dalam hal ini adalah shalat gerhana Bulan atau shalat gerhana Matahari. (Fath al-Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani, 2/534)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Urwah radhiyallahu ‘anhu, ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkisah,

خَسَفَتِ الشَّمْسُ، فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَرَأَ سُورَةً طَوِيلَةً، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ، ثُمَّ اسْتَفْتَحَ بِسُورَةٍ أُخْرَى، ثُمَّ رَكَعَ حَتَّى قَضَاهَا وَسَجَدَ، ثُمَّ فَعَلَ ذَلِكَ فِي الثَّانِيَةِ،

Ketika terjadi gerhana matahari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri melaksanakan shalat, Beliau membaca bacaan yang panjang lalu Beliau rukuk dengan rukuk yang panjang lalu mengangkat kepala lalu memulai membaca surat yang lain, lalu rukuk kembali sampai menyempurnakannya dan kemudian sujud. Kemudian Beliau melakukan seperti itu lagi pada rakaat kedua.” (HR. Al-Bukhari No. 1212)

Kemudian, Abdulllah bin Amru radhiyallahu ‘anhu juga pernah memberikan kesaksian,

لَمَّا ‌كَسَفَتِ ‌الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ إِنَّ الصَّلَاةَ جَامِعَةٌ

Ketika terjadi gerhana Matahari di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamorang-orang diseru dengan seruan ‘ash-shalatu jami’ah’ (Marilah mendirikan shalat secara berjamaah).” (HR. Al-Bukhari No. 1045)

Amalan Kedua: Memperbanyak Zikir

Ketika terjadi gerhana Matahari atau gerhana Bulan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menganjurkan untuk memperbanyak zikir.

Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ ‌فَافْزَعُوا ‌إِلَى ‌ذِكْرِ ‌اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى الصَّلَاةِ

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allahdan sesungguhnya keduanya tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang, jika kalian melihatnya maka bersegeralah untuk berzikir kepada Allah subhanahu wata’ala dan mendirikan shalat.” (HR. An-Nasa’i No. 1483; HR. Ibnu Khuzaimah No. 1392. Hadits shahih)

 

Amalan Ketiga: Memohon Perlindungan dari Azab Kubur

Termasuk amalan utama ketika gerhana Matahari atau gerhana Bulan ialah banyak-banyak memohon perlindungan dari azab kubur.

Asma’ binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma pernah memberikan kesaksian tentang salah satu materi khutbah gerhana yang ketika itu disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Setelah melaksanakan shalat gerhana, beliau bersabda dalam khutbahnya,

مَا مِنْ شَيْءٍ لَمْ أَرَهُ إِلَّا وَقَدْ ‌رَأَيْتُهُ ‌فِي ‌مَقَامِي هَذَا، حَتَّى الجَنَّةَ وَالنَّارَ، وَأُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي القُبُورِ قَرِيبًا مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ،

Tidak ada sesuatu yang belum diperlihatkan kepadaku, kecuali aku sudah melihatnya dari tempatku ini hingga Surga dan Neraka, lalu telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan menghadapi ujian di dalam kubur kalian yang menyerupai ujian tentang Dajjal.” (HR. Al-Bukhari No.7287)

 

Amalan Keempat: Memperbanyak Doa, Istighfar, dan Tobat

Ketika terjadi gerhana Matahari atau gerhana Bulan, dianjurkan untuk memperbanyak doa, istighfar, dan tobat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

هَذِهِ الآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ، لَا تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ، ‌فَافْزَعُوا ‌إِلَى ‌ذِكْرِهِ ‌وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

Sesungguhnya semua tanda-tanda yang dikirimkan oleh Allah ini bukanlah disebabkan oleh meninggalnya atau lahirnya seseorang, akan tetapi Allah mengirimnya untuk menakut-nakuti para hamba-Nya. Oleh sebab itu jika kalian melihatnya maka bersegeralah berzikir mengingat Allah, memanjatkan doa pada-Nya, serta memohon ampunan-Nya.” (HR. Al-Bukhari No. 1059; HR Muslim No.912)

 

Amalan Kelima: Memperbanyak Takbir

Selain menganjurkan ketika tiba hari raya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menganjurkan takbir ketika melihat gerhana Matahari atau gerhana Bulan.

Beliau bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ مِنْ آيَاتِ اللهِ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا، وَادْعُوا اللهَ ‌وَصَلُّوا ‌وَتَصَدَّقُوا،

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allahdan sesungguhnya keduanya tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorangJika kalian telah melihatnyamaka bertakbirlah.” (HR. Mulsim No. 901)

 

Amalan Keenam: Memperbanyak Sedekah

Sedekah termasuk amalan utama ketika gerhana Matahari atau gerhana Bulan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menganjurkan umatnya untuk memperbanyak sedekah ketika melihat fenomena gerhana Matahari atau gerhana Bulan.

Anjuran ini termasuk salah satu materi khutbah shalat gerhana yang pernah beliau sampaikan setelah melaksanakan shalat gerhana.

Beliau bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ مِنْ آيَاتِ اللهِ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا، وَادْعُوا اللهَ ‌وَصَلُّوا ‌وَتَصَدَّقُوا،

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allahdan sesungguhnya keduanya tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorangJika kalian telah melihatnyamaka bertakbirlahberdoalah kepada Allahshalatlahdan bersedekahlah.” (HR. Mulsim No. 901)

 

Amalan Ketujuh: Saling Mengingatkan Antar Sesama

Salah satu anjuran yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika terjadi gerhana Matahari atau gerhana Bulan adalah saling mengingatkan antar sesama dari perbuatan dosa dan maksiat.

Sebagaimana nasehat yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam khutbah setelah melaksanakan shalat gerhana,

يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللَّهِ مَا مِن أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ، لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرً

Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang yang lebih cemburu dari Allah jika hamba-Nya, laki-laki atau perempuan berzina. Wahai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Al-Bukhari No. 986)

 

Amalan Kedelapan: Memupuk Rasa Takut Kepada Allah subhanahu wata’ala

Hikmah di balik ketetapan Allah subhanahu wata’ala dalam fenomena gerhana Matahari atau gerhana Bulan ialah sebagai wasilah untuk meningkatkan rasa takut kepada Allah subhanahu wata’ala.

Dengan rasa takut itulah seseorang akan bertambah imannya dan bertambah ketaatannya kepada Allah subhanahu wata’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ، فَإِذَا كَسَفَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian atau lahirnya seseorang, akan tetapi keduanya adalah bagian dari ayat-ayat Allah yang dengan keduanya Dia menakuti hamba-hamba-Nya. Maka jika keduanya telah tampak maka bersegeralah untuk shalat.” (Al-Mustadrak ala ash-Shahihain, Al-Hakim, No. 1236, 1/481)

Oleh sebab itu, berupaya untuk terus memupuk rasa takut kepada Allah subhanahu wata’ala termasuk amalan utama ketika gerhana Matahari atau gerhana Bulan terjadi.

Demikian penjelasan ringkas tentang amalan utama ketika gerhana Matahari atau gerhana Bulan terjadi.

Semoga tulisan sederhana ini menyadarkan kita betapa pentingnya memerhatikan setiap fenomena alam yang terjadi; bahwa semua itu terjadi atas kehendak Allah subhanahu wata’ala semata, dan selalu tersimpan banyak hikmah dalam setiap ketetapan dan kehendak-Nya. Wallahu a’lam. (Sodiq Fajar/dakwah.id)

 

Baca artikel lainnya tentang  Resep rebung bambu kuning

Penulis: Aby hadim Al-Mujtaba

 


GERHANA BULAN MALAM INI

PONDOK HIKMAH BANTEN.  Jangan melewatkan fenomena alam, gerhana bulan total atau Super Blood Moon yang terjadi pada hari ini, Rabu, 26 Mei 2021. Karena gerhana bulan total ini hanya terjadi setiap 195 tahun.

Gerhana bulan total ini akan bisa disaksikan di seluruh wilayah Indonesia pada Rabu, 26 Mei 2021. Puncak gerhana bulan akan terjadi pada pukul 18.18 WIB, 19.18 WITA dan 20.18 WIT.



Kepala Sub Bidang Analisis Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Suaidi Ahadi menyampaikan nantinya puncak gerhana bisa diamati dari hampir seluruh wilayah Indonesia. “Kecuali sebagian kecil Riau, sebagian Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh,” ujar Suaidi saat dihubungi Kompas.com, Senin (24/5/2021).

Sementara itu, Pusat Sains Lapan sebagaimana dikutip dari Instagram resminya menyampaikan gerhana bulan ini akan tampak spesial. Hal ini karena beriringan dengan terjadinya perige, yakni bulan berada di jarak terdekatnya dengan bumi.

“Bulan akan tampak merah karena pembiasan cahaya matahari oleh lapisan atmosfer bumi. Oleh karenanya GBT kali ini disebut juga dengan bulan merah super atau super blood moon,” demikian tulis Lapan dalam Instagram resminya.

Berikut ini secara lengkap jadwal gerhana bulan merah super di setiap wilayah di Indonesia:

1. Jadwal gerhana bulan total di Sumatera Utara

  • Mulai gerhana bulan: 18.35 WIB
  • Gerhana berakhir: 20.51 WIB

2. Jadwal gerhana bulan total di Aceh

  • Mulai gerhana bulan: 18.50 WIB
  • Gerhana berakhir: 20.51 WIB

3. Jadwal gerhana bulan total di Sumatera Barat

  • Mulai gerhana bulan: 18.18 WIB
  • Puncak gerhana bulan: 18.18 WIB
  • Gerhana berakhir: 20.51 WIB

4. Jadwal gerhana bulan total di Sumatera Selatan

  • Mulai gerhana bulan: 18.09 WIB
  • Puncak gerhana bulan: 18.18 WIB
  • Gerhana berakhir: 20.51 WIB

5. Jadwal gerhana bulan total di Bengkulu

  • Mulai gerhana bulan: 18.09 WIB
  • Puncak gerhana bulan: 18.18 WIB
  • Gerhana berakhir: 20.51 WIB


Aby haafdim Al-Mujtaba

pondokhikmahbanten.com


Tuesday, 25 May 2021

MENCARI ILMU

 PONDOK NIKMAH BANTEN.Berkata Amirul Mu'minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu kepada Kumail bin Ziyad:











يا كميلُ بن زياد! القلوبُ أوعيةٌ؛ فخيرها أوعاها؛ احفظْ ما أقول لك: الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ
 ربَّانيٌّ، ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ، وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّ ناعقٍ يميلون مع كلِّ رِيح؛ لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجَئوا إلى ركنٍ وثيقٍ؛
العلمُ خيرٌ من المال: العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُ المالَ، العلمُ يزكُوْ على العمل والمالُ تنقُصُه النفقةُ، ومحبةُ العالم دينٌ يُدان بها، العلمُ يُكسِب العالمَ الطاعةَ في حياته وجميلَ الأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُ المال تزول بزواله، مات خُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ، والعلماءُ باقُون ما بقي الدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ.

"

Wahai Kumail bin Ziyaad! Hati adalah tempat, kemudian hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan); hafalkanlah apa yang tentu aku kattentu kepadamu !

Manusia ada tiga (kaum): alim rabbani (ulama), penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan, dan orang biasa yang mencontoh setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai karena arah angin (kemanapun diarahkan) , tak menerangi diri karena cahaya ilmu, dan tak berpegangan karena pegangan yang kuat ".


Ilmu lebih baik daripada harta:

-Ilmu menjagamu, sedang harta engkau yang menjaganya.

-Ilmu bertambah terus karena diamalkan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfaqkan .

-Mencintai orang yang berilmu (ulama) anasirdari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah.

-Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati tatkala hidupnya dan disebut karena kebaikan setelah matinya.

-Apa yang dihasilkan oleh harta tentu hilang bersama kemusnahannya.

-Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama tentu tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia.

Takhrij Atsar:

Atsar yang sebenarnya panjang ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim Al-Ashfahaani dalam Hilyatul Auliya' (1/79), dan Al-Khathiib Al-Baghdaady dalam Taarikh Baghdaad (6/379).

Pada sanadnya, ada riwayat yang dibicartentu oleh ulama tentang kelemahannya. Namun Ibnul Qayyim rahimahullah mengattentu kemudiankemasyhuran (dikenalnya) atsar ini diantara ulama sudah cukup (sebagai sandaran), sehingga tak perlu melihat sanadnya. (Lihat I'laamul Muwaqqi'iin 2/195).

Penjelasan Atsar ini:

Di masa Amirul Mu'minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu darul khilafah (pusat pemerintahan) yang sebelumnya berada di Madinah, berpindah ke Kuufah, salah satu kota di Iraq. Disana ia memiliki murid-murid yang memetik ilmu dari ia. Diantaranya adalah Kumail bin Ziyad An-Nakha'i Al-Kuufi rahimahullah, seorang tabi'in, meninggal tahun 82 H, yang telah dinilai tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Hajar Al-Asqalaniy, namun ia dianggap memiliki paham tasyayyu' (ketentuan mengedepankan Ali di atas 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhuma). ia meriwayatkan hadist dari Umar bin Al-Khaththab, Ali bin Abu Thalib, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Mas'uud radhiyallahu 'anhum. Diantara riwayat yang meriwayatkan dari ia: Abu Ishaq Al-Hamadaani, Sulaiman bin Mihraan Al-A'masy dan lain-lain.

"Wahai Kumail bin Ziyaad! Hati adalah tempat, kemudian hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan)"

Hati adalah tempat, yaitu tempat untuk menampung ilmu. Ini menunjukkan kedudukan dan pungsi hati dalam menimba ilmu agama, yaitu sebagai tempat. Ini adalah isyarat agar seorang penuntut ilmu memperhatikan hatinya dan menjaga kebersihannya; agar menjadi tempat yang baik bagi ilmu yang dia dapatkan.

Ibarat rumah apabila bersih, rapi, nyaman, tentu tentu betah orang yang tinggal di dalamnya; sebaliknya rumah yang kotor dan beranttentu, berkeliaran kecoak dan tikus, berbau dan lain-lain; tentunya orang tak tentu betah tinggal didalamnya.

Demikian pula hati sebagai tempat ilmu, apabila bersih tentu menetap ilmu yang masuk, dan apabila kotor karena kemaksiatan dan dosa kemudian ilmu tersebut tak tentu betah bertempat tinggal di hati tersebut. Semakin kotor hatinya semakin tak betah padanya.

Oleh karena itu seorang penuntut ilmu hendaknya menghindari dosa dan maksiat; baik maksiat karena melihat, mendengar, berbicara, atau dosa karena hati seperti membayangkan (sesuatu yang diharamkan) , hasad, sombong dan lain-lain. Apabila melakukan dosa kemudian hendaknya dia segera membersihkan hati karena memperbanyak istighfar dan bertaubat. Yang demikian itu, agar dia dimudahkan oleh Allah untuk menerima ilmu agama, menghafalnya, dan memahaminya. Tidak mungkin seseorang bisa menggapai ilmu agama yang bermanfaat hanya karena menghadiri majelis ilmu, membaca, menghafal saja, tapi harus menjaga kebersihan tempatnya karena meninggalkan kemaksiatan.

Inilah kuncii kuatnya hafalan para salaf dan para ulama, sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan mereka sendiri.

Imam Asy-Syafi'iy rahimahullah mengattentu:


شَكَوْتُ إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ المعَاصي
وَأخْبَرَنِي بأَنَّ العِلْمَ نُورٌ ونورُ الله لا يهدى لعاصي


-Aku mengadu kepada Waki' (yaitu Waki' bin Al-Jarraah Ar-Ru'aasy, guru Imam Asy-Syafi'i) tentang buruknya hafalanku ; kemudian ia menasehatiku agar aku meninggalkan kemaksiatan

-Dan ia mengabarkan kepadaku kemudianilmu adalah cahaya ; dan cahaya Allah tak diberikan kepada orang yang bermaksiat.

Waki' bin Al-Jarraah rahimahullah pun pernah berkata kepada Ali bin Khasyram:

اسْتَعِنْ عَلَى الْحِفْظِ بِقِلَّةِ الذُّنُوْبِ

"Bantulah dirimu dalam menghafal karena hanya memiliki sedikit dosa (mengurangi dosa)". (Atsar ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu'abul Iman 2/272 no: 1734 )

Sufyan bin 'Uyainah rahimahullah pun pernah ditanya: Bagaimana caramu mendapatkan hafalan (yang kuat)? ia berkata:

 بِتَرْكِ الْمَعَاصِيْ

"(Aku mendapatkan hafalan yang kuat) karena meninggalkan kemaksiatan" (Atsar ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu'abul Iman 2/272 no: 1735)

" Hafalkanlah apa yang tentu aku kattentu kepadamu"

"Manusia ada tiga (kaum) "

Ini adalah hasil pengamatan Ali radhiyallahu 'anhu, kemudianmanusia tak keluar dari 3 kaum ini. Dan yang dimaksud karena manusia disini –wallahu a'lam- adalah umat islam.

"Alim Rabbani (ulama) "

Ini adalah kaum pertama dan tertinggi tingkatannya, yaitu kaum alim rabbani, mereka adalah para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan mengajarkannya kepada orang lain secara bertahap (dari tingkat yang paling rendah, akhirnya ilmu yang lebih tinggi dari sebelumnya). Seorang 'alim yang tak mengamalkan; tak dinamtentu rabbani walaupunpun ia ajarkan ilmunya kepada orang lain. Dan seorang 'alim yang mengamalkan ilmunya apabila tak diajarkan kepada orang lain pun tak dinamtentu rabbani.

"Penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan"

Golongan kedua adalah kaum para penuntut ilmu, yang mereka sedang menempuh jalan keselamatan. Penuntut ilmu agama yang memiliki hasrat yang benar dan mengamalkan dialah yang dimaksud oleh Amirul Mukminin radhiyallahu 'anhu.

"Dan orang biasa yang mencontoh setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai karena arah angin (kemanapun diarahkan) , tak menerangi diri karena cahaya ilmu, dan tak berpegangan karena pegangan yang kuat "

Ini adalah kaum ketiga, yaitu kaum orang-orang biasa, mereka bukan orang alim, atau orang yang berusaha untuk menjadi orang alim (yaitu muta'allim). Keadaan mereka seperti yang ia sifatkan, hamajun ri'aa', orang-orang yang dungu, mencontoh setiap orang yang berteriak , artinya setiap ada yang datang mengajak kepada sesuatu kemudian dia mencontohnya, tak mempertimbangkan baik buruknya dan benar salahnya.

" mereka condong sesuai karena arah angin" seperti pohon yang lemah, yang senantiasa mencontoh arah angin.

Tidak menerangi diri karena cahaya ilmu dan tak berpegangan karena pegangan yang kuat " setelah menyebutkan keadaan kaum ketiga; ia menyebutkan dua sebab kenapa mereka menjadi demikian, yang pertama karena tak berusaha menyinari hatinya karena cahaya ilmu, ridha karena kejahilan, akibatnya menjadi orang yang tak memiliki pendirian yang kuat. Berbeda karena orang yang memiliki ilmu, dimana ia berjalan bersamanya ilmu yang ia miliki, Allah berfirman:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا ) الأنعام/122)

"Apakah orang yang dulunya mati (hatinya) kemudia Kami hidupkan  kembali, dan Kami berikan kepadanya cahaya (ilmu dan hidayah) yang dia berjalan karena cahaya tersebut ditengah-tengah manusia, apakah sama dia karena orang yang berada di dalam kegelapan-kegelapan (kesesatan) yang dia tak bisa keluar darinya" (QS. Al-An'aam:122)

Yang kedua karena tak mau bertanya kepada orang yang berilmu, sehingga akhirnya tersesat.

Golongan yang ketiga ini walaupun jumlahnya yang paling banyak, mereka adalah kaum yang paling rendah derajatnya disisi Allah. Bahkan kalau diperhatikan, taklah terjadi fitnah dan kekacauan di sebuah negeri kecuali berasal dari kaum yang ketiga ini.

Di dalam pemanasirmanusia menjadi tiga kaum tersebut, terdapat dorongan dan anjuran bagi kaum muslimin untuk menuntut ilmu agama, dan mengingatkan mereka agar jangan menjadi orang yang jahil terhadap agama, sehingga mudah terpengaruh karena kesesatan. 

Janagan Lupa  Baca juga  : Religi Ziaroh Wali-Wali Karomah Bnaten.


Artikel :Aby hadiam Al-Mujtaba
Friday, 14 May 2021

SILATURRAHMI DAN 13 MANFAATNY


PONDOK HIKMAH AL-BAROKAH BANTEN- Alhamdulillah Silaturrahmia sudah terlaksana walau hanya sebentar bertemu sanak saudara di daerah Rangkas bitung Banten, Enak menemuinya pemenemuian hati sesudah bertemu Kaka yang tertua yang Alhamdulilla masiah Sehat Walafiat, bertemu adik-adik saudar yang lain handai taulan lainnya di kampung halaman tempat akua di lahirkan di sana,

Seyogyanya menjalin ikatan silaturahmi sejatinya dapat dilakukan kapan saja. Terlebih lagi, menjalin silaturahmi merupakan hal penting yang sudah ditekankan dalam agama apa pun.

Dengan silaturahmi, menemui persaudaraan dan saling memiliki akan terbangun. Bersilaturahmi juga dapat menjadi satu di antara cara untuk menjaga hubungan antarsesama tetap baik dan harmonis.

Itulah mengapa, penting untuk tetap menjalin ikatan silatrahmi antarsesama manusia dari berbagai golongan.

1. "Siapa yang kepingin dilapangkan rizekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi." - HR Bukhari

2. "Silaturahmi ialah jembatan yang menghubungkan dua sisi yang berbeda dengan sepirit kasih dan sayang."

3. "Di dunia ini tidak ada yang lebih banyak membuka kunci pintu dibanding berkenalan dengan banyak orang, silaturahmi." - Tere Liye

4. "Silaturahmi itu melapangkan pikiran, memperkaya sudut pandang, dan merupakan satu di antara dari sekian banyak pintu rezeki."

5. "tidak ada dosa yang Allah percepat siksaan kepada pelakunya di dunia serta yang tersimpan untuknya di akhirat, selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturahmi." - HR Tirmidzi

6. "Kebersamaan itu penting, bukan hanya untuk mempertahankan silaturahmi, tapi harus menghasilkan sesuatu yang lebih baik."

7. "Rahmat tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi." - HR Muslim

8. "Ada dua kaki yang sangat disukai Allah, yaitu kaki yang dilangkahkan untuk menunaikan salat fardhu dan kaki yang dilangkahkan untuk silaturahmi."

9. "Silaturahmi, mendekatkan kebaikan, menjauhkan dari segala beban."

10. "Bisnis terbaik ialah bisnis yang saling membangun silaturahim, memperluas relasi, dan membangun network."




Artikel : Aby hadim Al-Mujtaba.



Friday, 7 May 2021

BACAAN NIAT ZAKAT LENGKAP,

 

PONDOK HIKLMAH AL-BAROKAH BANTEN.

Artikel: Aby hadim Al-Mujtaba.

Bacaan Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga, Lengkap Beserta Terjemahannya



PONDOK HIKMAH AL-BAROKAH BANTEN - Zakat fitrah adalah zakat yang bertujuan untuk membersihkan harta dan sebagai pelengkap ibadah puasa di bulan Ramadan. Tanpa zakat fitrah, puasa Ramadan kita tidak terlengkapi.

Jadi, zakat fitrah merupakan kewajiban setiap orang Muslim, baik anak kecil maupun orang dewasa, harus menunaikannya untuk menyempurnakan puasa Ramadan.

Besar zakat fitrah yang ditunaikan berdasarkan syariah Islam yaitu 2,5 kg beras atau makanan pokok lainnya. Jika membayar dengan uang, maka wajib bayar sesuai harga 2,5 kg beras per individu.

Adapun waktu pelaksanaan zakat fitrah dimulai pada awal atau pertengahan bulan Ramadan, hingga akhir Ramadan, tepatnya sebelum salat Idulfitri.

Dalam menunaikannya zakat fitrah, terdapat doa niat dari pembayar zakat yang diucapkan kepada amil atau pengelola zakat. Itulah mengapa, penting untuk mengetahui niat zakat fitrah.

Berikut ini kumpulan bacaan niat zakat fitrah saat bulan Ramadan lengkap beserta terjemahannya, seperti disadur dari Liputan6.com, Selasa (4/5/2021). 


2. Niat Zakat Fitrah dan Artinya untuk Diri Sendiri Serta Keluarga

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَنِّيْ ﻭَﻋَﻦْ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﺎ ﻳَﻠْﺰَﻣُنِيْ ﻧَﻔَﻘَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri anni wa an jami’i ma yalzimuniy nafaqatuhum syar’an fardhan lillahi ta’ala

Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang nafkahnya menjadi tanggunganku fardhu karena Allah Taala."





3. Niat Zakat Fitrah untuk Anak Perempuan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺑِﻨْﺘِﻲْ … ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri ‘an binti fardhan lillahi ta’ala

Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak perempuanku ……(sebutkan nama), fardhu karena Allah Taala."


4. Niat Zakat Fitrah dan Artinya untuk Anak Laki - Laki

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻭَﻟَﺪِﻱْ … ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri ‘an waladi fardhan lillahi ta’ala

Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak laki-lakiku ……(sebutkan nama), fardhu karena Allah Taala."



5. Zakat Fitrah untuk Orang yang Diwakilkan

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ (..…) ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri ‘an (……) fardhan lillahi ta’ala

Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk……..(sebutkan nama spesifik), fardhu karena Allah Taala."

7 dari 7 halaman



6. Zakat Fitrah untuk Istri

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaytu an ukhrija zakaata al-fitri ‘an zaujati fardhan lillahi ta’ala

Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk istriku fardhu karena Allah Taala."

Lalu, penerima zakat atau amil hendaknya mendoakan kembali dengan kata-kata yang baik, contohnya:

ﺁﺟَﺮَﻙ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﻋْﻄَﻴْﺖَ، ﻭَﺑَﺎﺭَﻙَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﺑْﻘَﻴْﺖَ ﻭَﺟَﻌَﻠَﻪُ ﻟَﻚَ ﻃَﻬُﻮْﺭً

Aajaraka Allahu fiima a’thayta, wa baaraka fiima abqayta wa ja’alahu laka thahuran

Artinya: "Semoga Allah memberikan pahala atas apa yang engkau berikan, dan semoga Allah memberikan berkah atas harta yang kau simpan dan menjadikannya sebagai pembersih bagimu."


demikian Niat mengeluarkan Zakat Fitrah 

Bersama : Aby hadim Al-Mujtaba 

 

Tuesday, 4 May 2021

HUKUM AQIQOH


Bagaimana Mengaqiqohi anak yang sudah meninggal




PONDOK HIKMAH AL-BAROKAH BANTEN-                          Tanya: Assalamualaikum.Wr. Wb. Aby hadim, Saya mau nanya Bagaimana hukumnya mengaqiqahkan anak yang sudah wafat? 

Apakah kewajiban orang tua belum gugur? Mohon dijawab terima kasih. Wassalamualaikum. (Ardiansyah Permadi)

Jawab:
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Alhamdulillah washshalatu wassalamu 'alaa rasulillah.

Aqiqah termasuk sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang dianjurkan. Berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak, diantaranya dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Artinya: "Setiap bayi tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan kambing pada hari ke-7, dicukur rambutnya serta diberi nama" (HR.Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’iy, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Abdul Haq, lihat at-Talkhis 4/1498 oleh Ibnu Hajar)

Maksud tergadaikan di sini adalah tertahan dari suatu kebaikan yang seharusnya diperoleh jika ia diaqiqahi. Karena seorang bisa kehilangan memperoleh kebaikan karena perbuatannya sendiri atau karena perbuatan orang lain. (Lihat Tuhfatul Maudud,Ibnul Qayyim hal.122-123, tahqiq: Syeikh Salim al-Hilali)

Berdasarkan perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits diatas maka tidak selayaknya meninggalkan aqiqah jika mampu. Bahkan kebiasaan para salaf mereka senantiasa melaksanakan aqiqah untuk anak-anak mereka.

Yahya al-Anshori rahimahullahu mengatakan: “Aku menjumpai manusia dan mereka tidak meninggalkan aqiqah dari anak laki-laki maupun perempuan”. (Al-Fath ar-Robbani, Ibnul Mundzir 13/124, lihat Ahkam al-Maulud hal.51, Salim bin Ali Rosyid as-Sibli dan Muhammad Kholifah Muhammad Robah)

Berhubungan dengan mengaqiqahi orang yang sudah meninggal maka tidak lepas dari tiga keadaan;

Pertama: Orang tua mengaqiqahi anak yang telah meninggal. Jika anak tersebut meninggal ketika sudah terlahir ke dunia, tetap disyariatkan untuk diaqiqahi.
Dan jika meninggalnya masih dalam kandungan dan sudah berusia 4 bulan maka disyariatkan aqiqah, jika kurang dari 4 bulan maka tidak disyariatkan.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Apabila janin itu keguguran setelah ditiupkannya ruh maka janin tersebut dimandikan, dikafani, disholati dan dikubur di pekuburan kaum muslimin, serta diberi nama dan diaqiqahi. Karena dia sekarang telah menjadi seorang manusia, maka berlaku pula baginya hukum orang dewasa”. (Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah hal.90, Ibnu Utsaimin)

Kedua: Anak mengaqiqahi orang tua yang sudah meninggal. Hukumnya tidak disyariatkan, karena perintah aqiqah ditujukan kepada orang tua bukan kepada anak
.
Ketiga: Mengaqiqahi seorang manusia yang telah meninggal. Jika ada seseorang yang meninggal dan dia semasa hidupnya belum diaqiqahi, maka tidak disyariatkan bagi ahli warisnya untuk mengaqiqahinya. Allohu A’lam. (Faedah ini kami dapat dari Syaikhuna Saami bin Muhammad as-Shuqair, murid senior dan menantu Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin, Jazaahullohu Khoiron).



Aby hadim Al-Mujtaba
Saturday, 1 May 2021

SEJARAH KEWAJIBAN PUASA










PONDOK HIKMAH BANTEN-
Tanya: Assalaamu'alaikum warahmatulloohi wabarakaatuh, Aby...ane mau nanya tentang PUASA RAMADHAN ni..dimulai sejak zaman nabi siapakah puasa Ramadhan, apakah sejak dulu satu bulan penuh Ramadhan.Jazakallohu khoiron.( yanto satpam)

Jawab:
Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh. Alhamdulillah, washsholaatu wassalaamu 'alaa rosulillah.
Kewajiban puasa ramadhan telah ada di dalam syariat umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana jelas di dalam ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa" (QS. Al-Baqoroh: 183).

Sebagian salaf mengatakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang sebelum kita adalah orang Nashrani, sebagian lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ahlul kitab, sebagian yang lain mengatakan bahwa mereka adalah semua manusia sebelum kita, 

mereka dahulu berpuasa Ramadhan penuh. Lihat atsar-atsar mereka di dalam Tafsir Ath-Thabary ketika menafsirkan ayat yang mulia ini.
Kemudian Ath-Thabary menguatkan bahwa pendapat yang paling dekat adalah yang mengatakan bahwa mereka adalah ahlul kitab, 

dan beliau mengatakan bahwa syariat puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan adalah ajaran Nabi Ibrahim, yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan ummatnya diperintahkan untuk mengikutinya. (Lihat Tafsir Ath-Thabary, tafsir Surat Al-Baqarah: 183)
Adapun kewajiban puasa Ramadhan bagi ummat Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam maka datang melalui 2 fase:
Pertama: Takhyiir (diberi pilihan)

Puasa Ramadhan saat pertama kali diwajibkan, seorang muslim yang mampu berpuasa diberi 2 pilihan, berpuasa atau memberi makan satu orang miskin, akan tetapi puasa lebih diutamakan dan dianjurkan. Berdasarkan firman Alloh ta'aalaa yang berbunyi;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184) [البقرة/183، 184]

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Yaitu dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. 
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kalian mengetahui. (QS.Al-Baqoroh: 183-184).
Salamah bin Akwa’ berkata;

كُنَّا فِى رَمَضَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ فَافْتَدَى بِطَعَامِ مِسْكِينٍ حَتَّى أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةُ (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه)

"Dahulu kami ketika di bulan Ramadhan pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam, barangsiapa yang ingin berpuasa maka boleh berpuasa, dan barangsiapa yang ingin berbuka maka dia memberi makan seorang miskin, hingga turun ayat Alloh (yang artinya); Barangsiapa yang mendapati bulan (ramadhan) maka dia wajib berpuasa". (HR.Bukhari: 4507, Muslim: 1145)

Kedua: Ilzaam (pengharusan)
Dalam fase ini maka seorang muslim yang terpenuhi syarat wajib puasa harus berpuasa dan tidak ada pilihan lain. Allah ta'aalaa berfirman:

(فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه)

Artinya: "Barangsiapa yang mendapati bulan (ramadhan) maka dia wajib berpuasa"

Pada awalnya orang yang tidur sebelum makan (berbuka puasa) atau sudah menunaikan shalat isya maka dia tidak boleh makan, minum, dan berjima' hingga hari berikutnya.

 Kemudian Allah ta'alaa memberikan keringanan dan membolehkan makan, minum, dan mendatangi istri pada malam hari penuh di bulan Ramadhan.
Allah ta'aalaa berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ [البقرة/187]

Artinya: " Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian mengkhianati diri kalian sendiri (yaitu tidak dapat menahan nafsu kalian), 
karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian, dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam" (QS.Al-Baqoroh: 187)

Demikianlah puasa diwajibkan terakhir kali dan tetap demikian hingga hari kiamat. (Lihat keterangan Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma'aad 2/30)

Kapan Puasa Ramadhan Diwajibkan?
Imam Ibnul Qoyyim rahimahulloh mengatakan: “Tatkala menundukkan jiwa dari perkara yang disenangi termasuk perkara yang sulit dan berat, maka kewajiban puasa Ramadhan tertunda hingga setengah perjalanan Islam setelah hijrah. Ketika jiwa manusia sudah mapan dalam masalah tauhid, sholat, dan perintah-perintah dalam al-Qur’an, maka kewajiban puasa Ramadhan mulai diberlakukan secara bertahap. Kewajiban puasa Ramadhan jatuh pada tahun kedua hijriah, tatkala Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam wafat, beliau sudah mengalami sembilan kali puasa Ramadhan. ( Zaadul Ma’ad 2/29)
Allohu A’lam.


Aby hadim Al-Mujtaba