Thursday, 22 July 2021

PONDOK HIKMAH BANTEN- Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kebenaran yang wajib kita ikuti adalah kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berupa wahyu yang berasal dari Allah ta'aalaa. Hanya dengan inilah dibangun syariat, baik yang berkaitan dengan aqidah (keyakinan) atau ahkam (hukum-hukum).

Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah 

((أنَّ الحقَّ الذي لا باطلَ فيه هو ما جاءت به الرسلُ عن الله، وذلك في حقِّنا، ويعرف بالكتاب والسنة والإجماع، وأمَّا ما لم تجئ به الرسلُ عن الله؛ أو جاءت به ولكن ليس لنا طريقٌ موصِلَةٌ إلى العلم به ففيه الحقُّ والباطلُ، فلهذا كانت الحجةُ الواجبةُ الاتباعِ للكتاب، والسنة، والإجماع؛ فإنَّ هذا حقٌّ لا باطلَ فيه)

"Sesungguhnya kebenaran yang tidak ada kebathilan di dalamnya adalah apa yang dibawa oleh para rasul dari Allah. Dan dalam agama kita dikenal dengan Al-Quran, As-Sunnah, dan Al-Ijma'. Adapun sesuatu yang tidak berasal dari para rasul yang bersumber dari Allah ta'aalaa ; atau yang berasal dari mereka akan tetapi tidak ada jalan untuk mengetahuinya maka di dalamnya ada kebenaran dan kebathilan. Oleh karena itu hujjah yang wajib diikuti hanyalah Al-Quran, As-Sunnah, dan Al-ijma'; karena ini adalah kebenaran yang tidak kebathilan di dalamnya" (Majmu' Al-Fatawa 5/19)
Dan termasuk wahyu adalah mimpi para nabi, karena sesungguhnya mimpi para nabi adalah dari Allah semata, yang dibangun di atasnya syariat. Adapun mimpi dari selain mereka maka tidak boleh dibangun syariat di atasnya.

I
bnul Qayyim rahimahullahu berkata:

(ورؤيا الأنبياء وحيٌ؛ فإنها معصومةٌ من الشيطان، وهذا باتفاق الأمة، ولهذا أقدم الخليلُ على ذبح ابنِهِ إسماعيل إ بالرؤيا، وأما رؤيا غيرهم فتُعْرَض على الوحي الصريح؛ فإن وافقتْه وإلاَّ لم يُعْمَلْ بها)

"Dan mimpi para Nabi adalah wahyu, karena mimpi mereka terjaga dari syetan; dan ini sudah menjadi kesepakatan umat (Islam); oleh karena itu Al-Khalil (Nabi Ibrahim 'alaihissalaam) mau menyembelih putranya Ismail 'alaihissalaam hanya karena mimpi. Adapun mimpi selain mereka maka harus dicocokkan dengan wahyu yang jelas; kalau cocok (maka diterima), kalau tidak maka tidak boleh diamalkan"(Madaarijussalikin 1/51)
Datang dalam Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daa'imah :

((الرؤيا المناميَّةَ والفراسةَ من غير الأنبياء والرسل عليهم الصلاة والسلام لا تعتَبَرُ أصلًا في التشريع، ولا يجب التصديقُ بها، فإنَّ المناماِت والفراساتِ يكثُر فيها التخليطُ والتباسُ الصادقِ منها بالكاذب، فلا يعتمَدُ عليها، إلا إذا كانت من الرسل أو الأنبياء عليهم الصلاةُ   والسلا م )
"Mimpi dan firasat dari selain para nabi dan rasul 'alaihimussalaam tidak boleh dianggap sebagai sumber (dalil) dalam pensyariatan, tidak wajib membenarkannya; karena sesungguhnya mimpi dan firasat banyak mencampuradukkan dan menyamarkan antara yang benar dan yang dusta, maka tidak boleh bersandar kepadanya, kecuali apabila (mimpi dan firasat) tersebut dari para rasul atau nabi 'alaihimushshalaatu wassalaam" (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 9/155-156)
Namun sebagian orang telah menjadikan mimpi ini sebagai sumber diantara sumber-sumber mendapatkan ilmu; sehingga ada sebagian mereka yang mengkhususkan bab mimpi jenis ini dalam kitab-kitab mereka, seperti Al-Qusyairy dalam Risalahnya, dan Al-Kalaabaadzy dalam kitabnya At-Ta'arruf li Madzhabi Ahli At-Tashuwwuf.
Asy-Syathiby rahimahullah menyatakan bahwa orang-orang seperti ini adalah orang yang paling lemah hujjahnya. (Lihat Al-I'tisham 2/85)
Kebanyakan mereka mengaku bermimpi melihat Allah ta'aalaa, atau melihat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihiwasallam, atau melihat syeikh mereka, kemudian membangun beberapa perkara di atas mimpi tersebut, seperti: mengetahui tafsir ayat, mengetahui keshahihan sebuah hadits, mengetahui pendapat yang rajih (kuat) dalam masalah fiqh, mengetahui keutamaan seseorang, dzikir dan doa tertentu, membenarkan aqidah mereka yang rusak, membenarkan cara ritual mereka dan lain-lain . (Lihat Al-Mashadir Al-'Aammah li At-Talaqqi 'Inda Ash-Shufiyyah 'Ardhan Wa Naqdan, Shaadiq Salim Shaadiq hal. 313-326 )
Tidak kita ragukan lagi bahwa keyakinan seperti ini salah dan menyimpang dari agama islam yang murni, alasannya bisa kita ringkas dalam beberapa poin berikut ini:
Pertama: Agama kita sudah sempurna sehingga tidak perlu mimpi-mimpi untuk menetapkan sebuah perkara agama.
Allah ta'aalaa berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
"Hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian" (QS. Al-Maidah:3)
Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika haji Wada' tahun ke 10 H. telah menjadikan sahabat saat itu sebagai saksi bahwa beliau telah menyampaikan risalah dari Allah dengan sebaik-baiknya; kemudian beliau mengatakan: "Ya Allah saksikanlah (bahwa aku telah menyampaikan risalah)" (HR. Muslim 2/322 no.1218, dari hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhumaa)
Oleh karena itu tidak ada satu perkara dalam agama yang dibutuhkan manusia kecuali sudah beliau shallallahu 'alaihi wa sallam jelaskan kepada kita.
Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:

(قد تركتُكم على البيضاءِ، ليلُها كنهارِها، لا يَزِيْغُ عنها بعدي إلا هالِكٌ)

"Sungguh telah aku tinggalkan kalian di atas (jalan) yang putih (terang benderang), malamnya seperti siangnya, tidak menyimpang darinya kecuali orang yang binasa" (HR. Ibnu Majah 1/16 no: 43 dari sahabat Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, dishahihkan oleh Al-Hakim, dan didiamkan oleh Adzdzahabi, lihat Al-Mustadrak 1/165 no.331, dan disebutkan Syeikh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 2/610 no.937).
Dijadikannya mimpi sebagai sumber dalam beragama pada hakekatnya adalah pendustaan terhadap kabar Allah dan tuduhan kepada Nabi Muhammad bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak menyampaikan semua risalah yang telah dibebankan kepada beliau.
Asy-Syathiby rahimahullahu menyebutkan bahwa menetapkan hukum dengan mimpi mengharuskan adanya pembaharuan wahyu setelah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan ini tertolak berdasarkan ijma' ulama. (Lihat Al-I'tisham 2/81)
Berkata Asy-Syaukany rahimahullahu:

(ولا يخفاك أنَّ الشرعَ الذي شرَعه اللهُ لنا على لسان نبيِّنا r قد كمَّله اللهُ ﻷ ، وقال: (الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ ) المائدة :3، ولم يأتِنَا دليلٌ يدُلُّ على أنَّ رؤيتَه في النوم بعد موته r إذا قال فيها بقولٍ أو فَعَلَ فيها فعلاً يكون دليلاً وحجَّةً، بل قَبَضَهُ الله إليه عند أنْ كَمَّلَ لهذه الأمة ما شَرَعَه لها على لسانِه، ولم يبق بعد ذلك حاجةٌ للأمة فى أمرِ دينها، وقد انقطعت البعثةُ لتبليغ الشرائع وتبيينِها بالموت، وإن كان رسولاً حيًّا وميتًا، وبهذا تعلَمُ أنْ لو قدَّرْنَا ضبطَ النائم لم يكن ما رآه مِنْ قوله r أو فِعْلِه حُجَّةً عليه، ولا على غيره مِنَ الأمة)

"Tidak samar bagimu bahwa syariat yang Allah syariatkan untuk kita dengan lisan Nabi kita shallallahu 'alaihi wasallam telah Allah 'azza wa jalla sempurnakan, Allah berfirman:
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

  تُلَكُمْ دِينَكُمْ  الْيَوْمَ أَكْمَلْ

Hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian" (QS. Al-Maidah:3)
Dan tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa seseorang apabila bermimpi melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam setelah beliau meninggal; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan sesuatu atau melakukan sesuatu; kemudian (ucapan dan perbuatan) tersebut menjadi dalil dan hujjah. Allah telah mencabut nyawa beliau ketika Allah telah menyempurnakan syariat-Nya untuk ummat ini dengan lisan Nabi-Nya. Dan setelah itu ummat sudah tidak butuh lagi tambahan dalam urusan agamanya. Sudah terputus tugas untuk menyampaikan risalah dengan kematian beliau, meskipun beliau tetap sebagai seorang rasul baik ketika hidup ataupun sesudah matinya. Dengan demikian kamu mengetahui bahwa seandainya ada seseorang yang mengingat benar mimpinya; maka apa yang dia lihat dalam mimpi tersebut; baik berupa ucapan Nabi shallallahu 'alaihiwasallam atau perbuatan beliau; tidak bisa dijadikan hujjah atas dirinya dan atas orang lain"( Irsyadul Fuhuul Ilaa Tahqiiqil Haqqi Min 'Ilmil Ushuul 2/1020-1021)
Kedua: Menetapkan sebuah hukum dengan mimpi saja adalah menyelisihi ijma' (kesepakatan ulama).
Al-Qadhi 'Iyadh rahimahullah telah menukil ijma' bahwa tidak boleh kita bersandar kepada mimpi dalam menetapkan hukum-hukum syariat. (Tharhu At-Tatsriib, Al-Qadhi 'Iyadh 8/215)
Dan telah berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu:
((وَالرُّؤْيَا المحْضةُ الَّتِي لا دليلَ يَدُلُّ على صحَّتِهَا لا يَجُوزُ أن يُثْبَتَ بها شَيْءٌ بالاتفاق))
"Dan mimpi yang tidak ada dalil atas kebenarannya; tidak boleh suatu hukum agama ditetapkan dengannya berdasarkan kesepakatan para ulama" ( Majmu' Al-Fatawa 27/458)
Ketiga: Mimpi selain para nabi dan rasul tidak ma'shum (terjaga dari kesalahan).
Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata:
((ورؤيا الأنبياء وحيٌ؛ فإنها معصومةٌ من الشيطان، وهذا باتفاق الأمة))
"Dan wahyu para Nabi adalah wahyu, karena mimpi mereka terjaga dari syetan; dan ini sudah menjadi kesepakatan umat (islam)" (Madarijussalikin 1/51)
Dengan demikian mimpi selain para nabi ada kemungkinan tidak benar, karena ada kemungkinan orangnya berdusta, atau mimpi tersebut dari syetan, atau mimpi tersebut adalah kejadian yang terbawa mimpi.
Berkata Syeikhul Islam rahimahullahu:
(( فأمَّا المناماتُ فكثيرٌ منها بل أكثرُها كذِبٌ... فرَاِئيْ المنام غالبًا ما يكون كاذبًا؛ وبتقدير صدقه فقد يكون الذي أخبره بذلك شيطان))
"Adapun mimpi-mimpi maka banyak atau sebagian besarnya adalah dusta…, yang mengaku bermimpi pada umumnya pendusta, seandainya dia jujurpun maka terkadang yang datang kepadanya adalah syetan" (Majmu' Al-Fatawa 27/457-458)
Dengan demikian dalam menilai sebuah mimpi maka kita harus kembali kepada dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah, apabila sesuai maka yang dipakai untuk menentukan hukum adalah dalil tersebut bukan mimpinya; karena hukum-hukum agama tidak dibangun di atas mimpi.
Dan apabila mimpi tersebut menyelisihi dalil maka mimpi tersebut ditolak, bagaimanapun keshalihan orang yang bermimpi tersebut atau bagaimanapun kejelasan apa yang dia lihat; dan kita harus meyakini bahwa mimpi tersebut dusta dan berasal dari syetan atau hanya sekedar mimpi kosong belaka.
Faidah (manfaat) mimpi :
Faidah mimpi hanyalah sebatas peringatan atau kabar gembira, sehingga hal tersebut mendorong dirinya untuk melakukan yang baik atau meninggalkan yang buruk.
Berkata Asy-Syathiby rahimahullahu:
((...لأنَّ الرؤيا مِن غيرِ الأنبياء لا يُحْكَمُ بها شرعًا على حالٍ؛ إلاَّ أنْ نَعْرِضَها على ما في أيدِيْنا من الأحكام الشرعِيَّة، فإنْ سَوَّغَتْها عُمِلَ بمقتضاها؛ وإلا وجب تركُها والإعراضُ عنها، وإنما فائدتها البشارةُ والنذارةُ خاصَّةً، وأما استفادةُ الأحكام فلا))
"… Sesungguhnya mimpi dari selain para Nabi secara syara'i tidak boleh dijadikan landasan untuk menghukumi perkara apapun; kecuali setelah ditimbang dengan hukum syariat; apabila diperbolehkan maka bisa diamalkan; bila tidak diperbolehkan maka wajib ditinggalkan dan berpaling darinya. Faidah dari mimpi tersebut hanyalah memberi kabar gembira atau peringatan; adapun menentukan sebuah hukum dengannya maka tidak boleh sama sekali" (Al-I'tisham 2/78)
Berkata Abdurrahman bin Yahya Al-Mu'allimy (wafat tahun 1386 H) rahimahullahu:
((اتفق أهلُ العلم على أنَّ الرؤيا لا تصلح للحجة، وإنما تبشير وتنبيه، وتصلح للاستئناس بها إذا وافقت حجة شرعية صحيحة))
"Para ulama telah bersepakat bahwa mimpi tidak bisa dijadikan hujjah (dalil), mimpi hanyalah sebatas memberi kabar gembira atau peringatan, dan bisa juga kita ambil ibrah apabila sesuai dengan dalil syar'i yang shahih" (At-Tankiil 2/242)
Keempat: Cara mengetahui yang halal dan yang haram, serta mengetahui aqidah dengan mimpi adalah cara yang dipakai oleh orang nashrani.
Berkata Abu Abdillah Al-Qurthuby (wafat tahun 671 H) rahimahullahu:
((فإن معظم معتمدهم في أمور دياناتهم إنما هو الإنجيل، ونقله غير متواتر لا سيما والأحداث عندهم في أكثر الأحيان بمنامات يدعونها، يجعلونها أصولاً يعولون عليها))
"Sesungguhnya sebagian besar keyakinan mereka (orang nashrani) dalam masalah agama berdasarkan injil yang penukilannya tidak mutawatir, terlebih-lebih dalam meriwayatkan kejadian-kejadian tersebut kebanyakannya dengan mimpi, kemudian menjadikan mimpi tersebut sebagai ushul (dalil)" (Al-I'laamu bimaa fii Diini An-Nashaaraa Minal Fasaadi Wal Auhaam, Al-Qurthuby 2/246)
Doktor Muhammad Dhiya' Al-A'zhami mengatakan:
((كَتَب هذا السِفْرَ صاحبُ الإنجيل يوحنا في عهد إمبراطور الدولة الرومانية الغربية عام 81م إلى 96م. وهو رؤيا منامية ادعاها يوحنا، وادعى أنه أوحى إليه فيها كثير من حقائق الديانة المسيحية، وأحداث المستقبل))
"Kitab (mimpi) ini ditulis oleh Yohana (penulis injil) di masa Imperatur Romawi Barat tahun 81 Masehi sampai tahun 96 Masehi, kitab ini berisi mimpi-mimpi yang dialami oleh Yohana, dan dia mengaku bahwasanya wahyu turun kepadanya, mimpi-mimpi tersebut berisi tentang beberapa hakikat agama nashrani dan kejadian-kejadian yang akan datang" (Diraasaat Fil Yahuudiyyah wal Masiihiyyah wa Adyaanil Hindi hal. 391)
Wallahu ta'aalaa a'lam.


Abdullah Roy
Wednesday, 26 May 2021

GERHANA BULAN

Amalan Utama Ketika Gerhana Bulan Atau Matahari

PONDOK HIKMAH BANTEN-Ikhwan /ikhwat.Bersiap. Pada hari ini, Rabu 26 Mei 2021, masyarakat di Indonesia akan disuguhi fenomena astronomi berupa Gerhana Bulan Total (GBT). Kabarnya, GBT akan terjadi pada sore hari menjelang malam, atau sekitar pukul 18.18 WIB. 

Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Rahmat Triyono mengatakan, Gerhana Bulan Total ini aman untuk disaksikan. 

Oleh karena itu bagi Umat Islam ada nya penomena alam ini bukan hanya untk dilihat dan di abadikan  melainmkan , tetapi pada kejadian penomena alam itu ada ibada yang Sunah dilaksanakan. 



 Gerhana Bulan dan gerhana Matahari adalah fenomena alam yang sangat menakjubkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan contoh terbaik tentang amalan utama ketika gerhana bulan atau gerhana matahari terjadi.

Apa saja amalan utama yang dianjurkan untuk dikerjakan ketika terjadi gerhana?

Berikut ini delapan amalan utama yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika terjadi gerhana Matahari atau gerhana Bulan.

 

Amalan Pertama: Melaksanakan Shalat Kusuf atau Shalat Khusuf

Amalan utama ketika gerhana bulan atau gerhana matahari terjadi adalah shalat.

Shalat Kusuf adalah shalat yang dilaksanakan ketika terjadi gerhana Matahari.

Shalat ini disebut dengan shalat Kusuf asy-Syams. Kusuf artinya tertutup. Asy-Syams artinya Matahari.

Istilah Kusuf asy-Syams dalam kamus bahasa Arab telah populer diartikan dengan gerhana Matahari.

Shalat Khusuf adalah shalat yang dilaksanakan ketika terjadi gerhana Bulan.

Shalat ini disebut dengan shalat Khusuf al-Qamar. Khusuf artinya terbenam. Al-Qamar artinya Bulan.

Sama seperti Kusuf asy-Syams, istilah Khusuf al-Qamar juga telah populer dalam kamus diartikan dengan gerhana Bulan.

Shalat Kusuf dan shalat Khusuf adalah amalan yang paling utama untuk dilaksanakan ketika terjadi gerhana. Baik gerhana Bulan ataupun gerhana Matahari.

Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian atau lahirnya seseorang, jika kalian melihatnya (gerhana) maka laksanakanlah shalat.” (HR. Ibnu Majah No. 1253)

Imam Ibnu Hajar menjelaskan, penggunaan kalimat fafza’u dalam hadits di atas mengandung isyarat untuk segera melaksanakan amalan yang diperintahkan. Dalam hal ini adalah shalat gerhana Bulan atau shalat gerhana Matahari. (Fath al-Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani, 2/534)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Urwah radhiyallahu ‘anhu, ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkisah,

خَسَفَتِ الشَّمْسُ، فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَرَأَ سُورَةً طَوِيلَةً، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ، ثُمَّ اسْتَفْتَحَ بِسُورَةٍ أُخْرَى، ثُمَّ رَكَعَ حَتَّى قَضَاهَا وَسَجَدَ، ثُمَّ فَعَلَ ذَلِكَ فِي الثَّانِيَةِ،

Ketika terjadi gerhana matahari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri melaksanakan shalat, Beliau membaca bacaan yang panjang lalu Beliau rukuk dengan rukuk yang panjang lalu mengangkat kepala lalu memulai membaca surat yang lain, lalu rukuk kembali sampai menyempurnakannya dan kemudian sujud. Kemudian Beliau melakukan seperti itu lagi pada rakaat kedua.” (HR. Al-Bukhari No. 1212)

Kemudian, Abdulllah bin Amru radhiyallahu ‘anhu juga pernah memberikan kesaksian,

لَمَّا ‌كَسَفَتِ ‌الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ إِنَّ الصَّلَاةَ جَامِعَةٌ

Ketika terjadi gerhana Matahari di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamorang-orang diseru dengan seruan ‘ash-shalatu jami’ah’ (Marilah mendirikan shalat secara berjamaah).” (HR. Al-Bukhari No. 1045)

Amalan Kedua: Memperbanyak Zikir

Ketika terjadi gerhana Matahari atau gerhana Bulan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menganjurkan untuk memperbanyak zikir.

Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ ‌فَافْزَعُوا ‌إِلَى ‌ذِكْرِ ‌اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى الصَّلَاةِ

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allahdan sesungguhnya keduanya tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang, jika kalian melihatnya maka bersegeralah untuk berzikir kepada Allah subhanahu wata’ala dan mendirikan shalat.” (HR. An-Nasa’i No. 1483; HR. Ibnu Khuzaimah No. 1392. Hadits shahih)

 

Amalan Ketiga: Memohon Perlindungan dari Azab Kubur

Termasuk amalan utama ketika gerhana Matahari atau gerhana Bulan ialah banyak-banyak memohon perlindungan dari azab kubur.

Asma’ binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma pernah memberikan kesaksian tentang salah satu materi khutbah gerhana yang ketika itu disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Setelah melaksanakan shalat gerhana, beliau bersabda dalam khutbahnya,

مَا مِنْ شَيْءٍ لَمْ أَرَهُ إِلَّا وَقَدْ ‌رَأَيْتُهُ ‌فِي ‌مَقَامِي هَذَا، حَتَّى الجَنَّةَ وَالنَّارَ، وَأُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي القُبُورِ قَرِيبًا مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ،

Tidak ada sesuatu yang belum diperlihatkan kepadaku, kecuali aku sudah melihatnya dari tempatku ini hingga Surga dan Neraka, lalu telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan menghadapi ujian di dalam kubur kalian yang menyerupai ujian tentang Dajjal.” (HR. Al-Bukhari No.7287)

 

Amalan Keempat: Memperbanyak Doa, Istighfar, dan Tobat

Ketika terjadi gerhana Matahari atau gerhana Bulan, dianjurkan untuk memperbanyak doa, istighfar, dan tobat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

هَذِهِ الآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ، لَا تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ، ‌فَافْزَعُوا ‌إِلَى ‌ذِكْرِهِ ‌وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

Sesungguhnya semua tanda-tanda yang dikirimkan oleh Allah ini bukanlah disebabkan oleh meninggalnya atau lahirnya seseorang, akan tetapi Allah mengirimnya untuk menakut-nakuti para hamba-Nya. Oleh sebab itu jika kalian melihatnya maka bersegeralah berzikir mengingat Allah, memanjatkan doa pada-Nya, serta memohon ampunan-Nya.” (HR. Al-Bukhari No. 1059; HR Muslim No.912)

 

Amalan Kelima: Memperbanyak Takbir

Selain menganjurkan ketika tiba hari raya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menganjurkan takbir ketika melihat gerhana Matahari atau gerhana Bulan.

Beliau bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ مِنْ آيَاتِ اللهِ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا، وَادْعُوا اللهَ ‌وَصَلُّوا ‌وَتَصَدَّقُوا،

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allahdan sesungguhnya keduanya tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorangJika kalian telah melihatnyamaka bertakbirlah.” (HR. Mulsim No. 901)

 

Amalan Keenam: Memperbanyak Sedekah

Sedekah termasuk amalan utama ketika gerhana Matahari atau gerhana Bulan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menganjurkan umatnya untuk memperbanyak sedekah ketika melihat fenomena gerhana Matahari atau gerhana Bulan.

Anjuran ini termasuk salah satu materi khutbah shalat gerhana yang pernah beliau sampaikan setelah melaksanakan shalat gerhana.

Beliau bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ مِنْ آيَاتِ اللهِ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا، وَادْعُوا اللهَ ‌وَصَلُّوا ‌وَتَصَدَّقُوا،

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allahdan sesungguhnya keduanya tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorangJika kalian telah melihatnyamaka bertakbirlahberdoalah kepada Allahshalatlahdan bersedekahlah.” (HR. Mulsim No. 901)

 

Amalan Ketujuh: Saling Mengingatkan Antar Sesama

Salah satu anjuran yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika terjadi gerhana Matahari atau gerhana Bulan adalah saling mengingatkan antar sesama dari perbuatan dosa dan maksiat.

Sebagaimana nasehat yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam khutbah setelah melaksanakan shalat gerhana,

يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللَّهِ مَا مِن أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ، لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرً

Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang yang lebih cemburu dari Allah jika hamba-Nya, laki-laki atau perempuan berzina. Wahai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Al-Bukhari No. 986)

 

Amalan Kedelapan: Memupuk Rasa Takut Kepada Allah subhanahu wata’ala

Hikmah di balik ketetapan Allah subhanahu wata’ala dalam fenomena gerhana Matahari atau gerhana Bulan ialah sebagai wasilah untuk meningkatkan rasa takut kepada Allah subhanahu wata’ala.

Dengan rasa takut itulah seseorang akan bertambah imannya dan bertambah ketaatannya kepada Allah subhanahu wata’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ، فَإِذَا كَسَفَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian atau lahirnya seseorang, akan tetapi keduanya adalah bagian dari ayat-ayat Allah yang dengan keduanya Dia menakuti hamba-hamba-Nya. Maka jika keduanya telah tampak maka bersegeralah untuk shalat.” (Al-Mustadrak ala ash-Shahihain, Al-Hakim, No. 1236, 1/481)

Oleh sebab itu, berupaya untuk terus memupuk rasa takut kepada Allah subhanahu wata’ala termasuk amalan utama ketika gerhana Matahari atau gerhana Bulan terjadi.

Demikian penjelasan ringkas tentang amalan utama ketika gerhana Matahari atau gerhana Bulan terjadi.

Semoga tulisan sederhana ini menyadarkan kita betapa pentingnya memerhatikan setiap fenomena alam yang terjadi; bahwa semua itu terjadi atas kehendak Allah subhanahu wata’ala semata, dan selalu tersimpan banyak hikmah dalam setiap ketetapan dan kehendak-Nya. Wallahu a’lam. (Sodiq Fajar/dakwah.id)

 

Baca artikel lainnya tentang  Resep rebung bambu kuning

Penulis: Aby hadim Al-Mujtaba

 


GERHANA BULAN MALAM INI

PONDOK HIKMAH BANTEN.  Jangan melewatkan fenomena alam, gerhana bulan total atau Super Blood Moon yang terjadi pada hari ini, Rabu, 26 Mei 2021. Karena gerhana bulan total ini hanya terjadi setiap 195 tahun.

Gerhana bulan total ini akan bisa disaksikan di seluruh wilayah Indonesia pada Rabu, 26 Mei 2021. Puncak gerhana bulan akan terjadi pada pukul 18.18 WIB, 19.18 WITA dan 20.18 WIT.



Kepala Sub Bidang Analisis Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Suaidi Ahadi menyampaikan nantinya puncak gerhana bisa diamati dari hampir seluruh wilayah Indonesia. “Kecuali sebagian kecil Riau, sebagian Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh,” ujar Suaidi saat dihubungi Kompas.com, Senin (24/5/2021).

Sementara itu, Pusat Sains Lapan sebagaimana dikutip dari Instagram resminya menyampaikan gerhana bulan ini akan tampak spesial. Hal ini karena beriringan dengan terjadinya perige, yakni bulan berada di jarak terdekatnya dengan bumi.

“Bulan akan tampak merah karena pembiasan cahaya matahari oleh lapisan atmosfer bumi. Oleh karenanya GBT kali ini disebut juga dengan bulan merah super atau super blood moon,” demikian tulis Lapan dalam Instagram resminya.

Berikut ini secara lengkap jadwal gerhana bulan merah super di setiap wilayah di Indonesia:

1. Jadwal gerhana bulan total di Sumatera Utara

  • Mulai gerhana bulan: 18.35 WIB
  • Gerhana berakhir: 20.51 WIB

2. Jadwal gerhana bulan total di Aceh

  • Mulai gerhana bulan: 18.50 WIB
  • Gerhana berakhir: 20.51 WIB

3. Jadwal gerhana bulan total di Sumatera Barat

  • Mulai gerhana bulan: 18.18 WIB
  • Puncak gerhana bulan: 18.18 WIB
  • Gerhana berakhir: 20.51 WIB

4. Jadwal gerhana bulan total di Sumatera Selatan

  • Mulai gerhana bulan: 18.09 WIB
  • Puncak gerhana bulan: 18.18 WIB
  • Gerhana berakhir: 20.51 WIB

5. Jadwal gerhana bulan total di Bengkulu

  • Mulai gerhana bulan: 18.09 WIB
  • Puncak gerhana bulan: 18.18 WIB
  • Gerhana berakhir: 20.51 WIB


Aby haafdim Al-Mujtaba

pondokhikmahbanten.com


Tuesday, 25 May 2021

MENCARI ILMU

 PONDOK NIKMAH BANTEN.Berkata Amirul Mu'minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu kepada Kumail bin Ziyad:











يا كميلُ بن زياد! القلوبُ أوعيةٌ؛ فخيرها أوعاها؛ احفظْ ما أقول لك: الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ
 ربَّانيٌّ، ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ، وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّ ناعقٍ يميلون مع كلِّ رِيح؛ لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجَئوا إلى ركنٍ وثيقٍ؛
العلمُ خيرٌ من المال: العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُ المالَ، العلمُ يزكُوْ على العمل والمالُ تنقُصُه النفقةُ، ومحبةُ العالم دينٌ يُدان بها، العلمُ يُكسِب العالمَ الطاعةَ في حياته وجميلَ الأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُ المال تزول بزواله، مات خُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ، والعلماءُ باقُون ما بقي الدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ.

"

Wahai Kumail bin Ziyaad! Hati adalah tempat, kemudian hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan); hafalkanlah apa yang tentu aku kattentu kepadamu !

Manusia ada tiga (kaum): alim rabbani (ulama), penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan, dan orang biasa yang mencontoh setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai karena arah angin (kemanapun diarahkan) , tak menerangi diri karena cahaya ilmu, dan tak berpegangan karena pegangan yang kuat ".


Ilmu lebih baik daripada harta:

-Ilmu menjagamu, sedang harta engkau yang menjaganya.

-Ilmu bertambah terus karena diamalkan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfaqkan .

-Mencintai orang yang berilmu (ulama) anasirdari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah.

-Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati tatkala hidupnya dan disebut karena kebaikan setelah matinya.

-Apa yang dihasilkan oleh harta tentu hilang bersama kemusnahannya.

-Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama tentu tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia.

Takhrij Atsar:

Atsar yang sebenarnya panjang ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim Al-Ashfahaani dalam Hilyatul Auliya' (1/79), dan Al-Khathiib Al-Baghdaady dalam Taarikh Baghdaad (6/379).

Pada sanadnya, ada riwayat yang dibicartentu oleh ulama tentang kelemahannya. Namun Ibnul Qayyim rahimahullah mengattentu kemudiankemasyhuran (dikenalnya) atsar ini diantara ulama sudah cukup (sebagai sandaran), sehingga tak perlu melihat sanadnya. (Lihat I'laamul Muwaqqi'iin 2/195).

Penjelasan Atsar ini:

Di masa Amirul Mu'minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu darul khilafah (pusat pemerintahan) yang sebelumnya berada di Madinah, berpindah ke Kuufah, salah satu kota di Iraq. Disana ia memiliki murid-murid yang memetik ilmu dari ia. Diantaranya adalah Kumail bin Ziyad An-Nakha'i Al-Kuufi rahimahullah, seorang tabi'in, meninggal tahun 82 H, yang telah dinilai tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Hajar Al-Asqalaniy, namun ia dianggap memiliki paham tasyayyu' (ketentuan mengedepankan Ali di atas 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhuma). ia meriwayatkan hadist dari Umar bin Al-Khaththab, Ali bin Abu Thalib, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Mas'uud radhiyallahu 'anhum. Diantara riwayat yang meriwayatkan dari ia: Abu Ishaq Al-Hamadaani, Sulaiman bin Mihraan Al-A'masy dan lain-lain.

"Wahai Kumail bin Ziyaad! Hati adalah tempat, kemudian hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan)"

Hati adalah tempat, yaitu tempat untuk menampung ilmu. Ini menunjukkan kedudukan dan pungsi hati dalam menimba ilmu agama, yaitu sebagai tempat. Ini adalah isyarat agar seorang penuntut ilmu memperhatikan hatinya dan menjaga kebersihannya; agar menjadi tempat yang baik bagi ilmu yang dia dapatkan.

Ibarat rumah apabila bersih, rapi, nyaman, tentu tentu betah orang yang tinggal di dalamnya; sebaliknya rumah yang kotor dan beranttentu, berkeliaran kecoak dan tikus, berbau dan lain-lain; tentunya orang tak tentu betah tinggal didalamnya.

Demikian pula hati sebagai tempat ilmu, apabila bersih tentu menetap ilmu yang masuk, dan apabila kotor karena kemaksiatan dan dosa kemudian ilmu tersebut tak tentu betah bertempat tinggal di hati tersebut. Semakin kotor hatinya semakin tak betah padanya.

Oleh karena itu seorang penuntut ilmu hendaknya menghindari dosa dan maksiat; baik maksiat karena melihat, mendengar, berbicara, atau dosa karena hati seperti membayangkan (sesuatu yang diharamkan) , hasad, sombong dan lain-lain. Apabila melakukan dosa kemudian hendaknya dia segera membersihkan hati karena memperbanyak istighfar dan bertaubat. Yang demikian itu, agar dia dimudahkan oleh Allah untuk menerima ilmu agama, menghafalnya, dan memahaminya. Tidak mungkin seseorang bisa menggapai ilmu agama yang bermanfaat hanya karena menghadiri majelis ilmu, membaca, menghafal saja, tapi harus menjaga kebersihan tempatnya karena meninggalkan kemaksiatan.

Inilah kuncii kuatnya hafalan para salaf dan para ulama, sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan mereka sendiri.

Imam Asy-Syafi'iy rahimahullah mengattentu:


شَكَوْتُ إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ المعَاصي
وَأخْبَرَنِي بأَنَّ العِلْمَ نُورٌ ونورُ الله لا يهدى لعاصي


-Aku mengadu kepada Waki' (yaitu Waki' bin Al-Jarraah Ar-Ru'aasy, guru Imam Asy-Syafi'i) tentang buruknya hafalanku ; kemudian ia menasehatiku agar aku meninggalkan kemaksiatan

-Dan ia mengabarkan kepadaku kemudianilmu adalah cahaya ; dan cahaya Allah tak diberikan kepada orang yang bermaksiat.

Waki' bin Al-Jarraah rahimahullah pun pernah berkata kepada Ali bin Khasyram:

اسْتَعِنْ عَلَى الْحِفْظِ بِقِلَّةِ الذُّنُوْبِ

"Bantulah dirimu dalam menghafal karena hanya memiliki sedikit dosa (mengurangi dosa)". (Atsar ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu'abul Iman 2/272 no: 1734 )

Sufyan bin 'Uyainah rahimahullah pun pernah ditanya: Bagaimana caramu mendapatkan hafalan (yang kuat)? ia berkata:

 بِتَرْكِ الْمَعَاصِيْ

"(Aku mendapatkan hafalan yang kuat) karena meninggalkan kemaksiatan" (Atsar ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu'abul Iman 2/272 no: 1735)

" Hafalkanlah apa yang tentu aku kattentu kepadamu"

"Manusia ada tiga (kaum) "

Ini adalah hasil pengamatan Ali radhiyallahu 'anhu, kemudianmanusia tak keluar dari 3 kaum ini. Dan yang dimaksud karena manusia disini –wallahu a'lam- adalah umat islam.

"Alim Rabbani (ulama) "

Ini adalah kaum pertama dan tertinggi tingkatannya, yaitu kaum alim rabbani, mereka adalah para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan mengajarkannya kepada orang lain secara bertahap (dari tingkat yang paling rendah, akhirnya ilmu yang lebih tinggi dari sebelumnya). Seorang 'alim yang tak mengamalkan; tak dinamtentu rabbani walaupunpun ia ajarkan ilmunya kepada orang lain. Dan seorang 'alim yang mengamalkan ilmunya apabila tak diajarkan kepada orang lain pun tak dinamtentu rabbani.

"Penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan"

Golongan kedua adalah kaum para penuntut ilmu, yang mereka sedang menempuh jalan keselamatan. Penuntut ilmu agama yang memiliki hasrat yang benar dan mengamalkan dialah yang dimaksud oleh Amirul Mukminin radhiyallahu 'anhu.

"Dan orang biasa yang mencontoh setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai karena arah angin (kemanapun diarahkan) , tak menerangi diri karena cahaya ilmu, dan tak berpegangan karena pegangan yang kuat "

Ini adalah kaum ketiga, yaitu kaum orang-orang biasa, mereka bukan orang alim, atau orang yang berusaha untuk menjadi orang alim (yaitu muta'allim). Keadaan mereka seperti yang ia sifatkan, hamajun ri'aa', orang-orang yang dungu, mencontoh setiap orang yang berteriak , artinya setiap ada yang datang mengajak kepada sesuatu kemudian dia mencontohnya, tak mempertimbangkan baik buruknya dan benar salahnya.

" mereka condong sesuai karena arah angin" seperti pohon yang lemah, yang senantiasa mencontoh arah angin.

Tidak menerangi diri karena cahaya ilmu dan tak berpegangan karena pegangan yang kuat " setelah menyebutkan keadaan kaum ketiga; ia menyebutkan dua sebab kenapa mereka menjadi demikian, yang pertama karena tak berusaha menyinari hatinya karena cahaya ilmu, ridha karena kejahilan, akibatnya menjadi orang yang tak memiliki pendirian yang kuat. Berbeda karena orang yang memiliki ilmu, dimana ia berjalan bersamanya ilmu yang ia miliki, Allah berfirman:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا ) الأنعام/122)

"Apakah orang yang dulunya mati (hatinya) kemudia Kami hidupkan  kembali, dan Kami berikan kepadanya cahaya (ilmu dan hidayah) yang dia berjalan karena cahaya tersebut ditengah-tengah manusia, apakah sama dia karena orang yang berada di dalam kegelapan-kegelapan (kesesatan) yang dia tak bisa keluar darinya" (QS. Al-An'aam:122)

Yang kedua karena tak mau bertanya kepada orang yang berilmu, sehingga akhirnya tersesat.

Golongan yang ketiga ini walaupun jumlahnya yang paling banyak, mereka adalah kaum yang paling rendah derajatnya disisi Allah. Bahkan kalau diperhatikan, taklah terjadi fitnah dan kekacauan di sebuah negeri kecuali berasal dari kaum yang ketiga ini.

Di dalam pemanasirmanusia menjadi tiga kaum tersebut, terdapat dorongan dan anjuran bagi kaum muslimin untuk menuntut ilmu agama, dan mengingatkan mereka agar jangan menjadi orang yang jahil terhadap agama, sehingga mudah terpengaruh karena kesesatan. 

Janagan Lupa  Baca juga  : Religi Ziaroh Wali-Wali Karomah Bnaten.


Artikel :Aby hadiam Al-Mujtaba
Sunday, 23 May 2021

BAMBU KUNING DAN MANPAATNYA

 Manpaat dah khasiat Bambu Kuning



Resep Praktis dan Cara Pembuatan 

Rebung Bumbu Kuning yang Spesial 
dan Istimewa Untuk Keluarga 
Di Rumah 

Aneka Resep Sayur dan Tumis Rebung Rebung merupakan slahsatu jenis sayuran yang lumrah dan banyak ditemukan di wilayah Asia termasuk Indonesia.

Rebung bambu kuning sudah sejak zaman dahulu dijadikan bermacam obat oleh nenek dijadikan moyang kita, 

penyakit obat lever atau penyakit kuning, karena memang ada khasiatnya maka budaya atau kebiasaan itu diwariskan sampai zaman saat ini.

kandungan yang terdapat dalam rebung bambung kuning ini dipercaya mampu mengatasi atau mengobati bebagai seperti diatas

karena banyaknya kandungan pitamin yang terdapat dalam rebung  rebung bambu kuning juga mampu mengobati penyakit dalam seperti  kerusakan dalam fungsi hati. 

maka pengobatan secara tradisional rebung bambu kuning bisa dijadikan obat penyembuhan .




Resep Praktis dan Cara Pembuatan Rebung Bumbu Kuning yang Spesial dan Istimewa Untuk Keluarga Di Rumah 

Rebung bambu kuning selain bisa di jadikan obat ternyata dapat diolah menjadi berbagai jenis hidangan lezat nan menggugah selera makan.

 Biasanya rebung akan mudah ditemukan di tempat yang memiliki banyak tumbuhan bambu, 

mengingat rebung bambu kuning merupakan tunas dari bambu. Dengan kelezatan rasa dari rebung bambu kuning dan beberapa informasi menyebutkan jika rebung bambu kuning juga merupakan tanaman sayur dengan sejuta khasiat dan manfaat besar lezat buat di bikin berbagai masakan, 

maka sangat tidak ada salahnya anda mencoba untuk mengolah rebung menjadi hidangan spesial di meja makan anda. 

Bagi anda yang teratrik dengan hidangan rebung dan sedang mencari resep masakan rebung yang nikmat, 

mungkin menu berikut, yakni rebung bumbu kuning ini bisa menjadi sebuah pilihan yang tepat yang anda coba olah di dapur.

Silahkan untuk menyikak resepnya dibaweah ini:




Untuk Membuat Resep Spesial Rebung 

Bumbu Kuning yang Paling 

Mantap dan Nikmat 

Bahan yang Diperlukan 


rebung muda yang masih bagus, bersihkan dengan mencucinya kemudian iris halus, 
6 helai kacang panjang, potong-potong 
100 gram udang kecil, kupas kulitnya
 buah cabai merah, potong serong 
2 buah cabai hijau, potong serong 
2 sendok makan minyak goreng 
250 ml santan kelapa kental 
500 ml santan kelapa encer 
2 lembar daun salam 
½ ruas lengkuas
 
Bumbu Halus 

½ sendok teh merica kasar (butiran) 
½ sendok teh terasi goreng
 3 buah cabai merah besar 
3 buah cabai rawit merah 
1 sendok teh gula merah
5 buah bawang merah 
2 siung bawang putih3 sendok teh garam 1 ½ ruas kunyit
½ ruas jahe                                                                                          Langkah Pembuatan dan Cara                                               Pengolahan Sajian Nikmat dan                                                       Mantap Resep Rebung Bumbu Kuning                                              Langkah Pembuatan


1.   Haluskan terlebih dahulu bumbu halus dengan menggunakan blender atau ulekan sesuai dengan selera anda masing-masing
2. Persiapkan wajan dan minyak kemudian lanjutkan dengan menumis bumbu halus tersebut sampai dengan wangi.
3. Jangan lupa tambahkan lengkuas serta daun alam dan cabai ke dalam masakan anda tersebut. aduk dan campurkan semua bahan tersebut samapai merata.
4. Masukan udang kupas ke dalam wajan dan aduk sampai udang tersebut berubah warna.
5. Mulai tuang perlahan santan encer ke dalam wajan, kemudian adna didihkan.
6.  Masukan kacang panjang bersama rebung, lalu didihkan. Kembali.
7.  Setelah beberapa saat anda masukan perlahan santan kental ke dalam wajan masakan dan biarkan.
8.  Setelah dirasa cukup kemuudian anda matikan api dan angkat sajian anda tersebut.
9.  Masukan sajian anda tersebut ke dalam mangkuk saji dan hidangkan selagi panas kepada orang terdekat anda masing-masing.
Bagaimana? Sudah ada gambaran bagaimana cara dan langkah pembuatanya? Silahkan untuk mengolah sendiri sajian ini di rumah dengan mengikuti resep dan cara pembuatan yang sudah anda baca di atas. 


Berikan pendapat anda mengenai hidangan satu ini, kemudian bagikanlah artikelnya melalui media sosial anda masing-masing. 


Janga lewatkan : Manpaat Bambu kuning.

Sayur Rebung Bambu kuning jangan lupa dibawa buat makan bareng di pantai Caringin
                                    





Friday, 14 May 2021

SILATURRAHMI DAN 13 MANFAATNY


PONDOK HIKMAH AL-BAROKAH BANTEN- Alhamdulillah Silaturrahmia sudah terlaksana walau hanya sebentar bertemu sanak saudara di daerah Rangkas bitung Banten, Enak menemuinya pemenemuian hati sesudah bertemu Kaka yang tertua yang Alhamdulilla masiah Sehat Walafiat, bertemu adik-adik saudar yang lain handai taulan lainnya di kampung halaman tempat akua di lahirkan di sana,

Seyogyanya menjalin ikatan silaturahmi sejatinya dapat dilakukan kapan saja. Terlebih lagi, menjalin silaturahmi merupakan hal penting yang sudah ditekankan dalam agama apa pun.

Dengan silaturahmi, menemui persaudaraan dan saling memiliki akan terbangun. Bersilaturahmi juga dapat menjadi satu di antara cara untuk menjaga hubungan antarsesama tetap baik dan harmonis.

Itulah mengapa, penting untuk tetap menjalin ikatan silatrahmi antarsesama manusia dari berbagai golongan.

1. "Siapa yang kepingin dilapangkan rizekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi." - HR Bukhari

2. "Silaturahmi ialah jembatan yang menghubungkan dua sisi yang berbeda dengan sepirit kasih dan sayang."

3. "Di dunia ini tidak ada yang lebih banyak membuka kunci pintu dibanding berkenalan dengan banyak orang, silaturahmi." - Tere Liye

4. "Silaturahmi itu melapangkan pikiran, memperkaya sudut pandang, dan merupakan satu di antara dari sekian banyak pintu rezeki."

5. "tidak ada dosa yang Allah percepat siksaan kepada pelakunya di dunia serta yang tersimpan untuknya di akhirat, selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturahmi." - HR Tirmidzi

6. "Kebersamaan itu penting, bukan hanya untuk mempertahankan silaturahmi, tapi harus menghasilkan sesuatu yang lebih baik."

7. "Rahmat tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi." - HR Muslim

8. "Ada dua kaki yang sangat disukai Allah, yaitu kaki yang dilangkahkan untuk menunaikan salat fardhu dan kaki yang dilangkahkan untuk silaturahmi."

9. "Silaturahmi, mendekatkan kebaikan, menjauhkan dari segala beban."

10. "Bisnis terbaik ialah bisnis yang saling membangun silaturahim, memperluas relasi, dan membangun network."




Artikel : Aby hadim Al-Mujtaba.